.post-thumbnail{float:left;margin-right:20px} }

Selasa, 16 April 2013

kumpulan biografu dan kisah ulama aceh


Kumpulan biografi dan kisah ulama-ulama sumatra pada masa ke masa
$yJ¯RÎ) Óy´øƒs ©!$# ô`ÏB ÍnÏŠ$t6Ïã (#às¯»yJn=ãèø9$# 3 žcÎ) ©!$# îƒÍtã îqàÿxî ÇËÑÈ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[QS. Faathir;28].
Makalah ini disusun oleh
Tgk Budi gayanto Al-khairy
Aceh, 2013

KATA PENGATAR




Puji syukur kehadhirat Allah SWT. Yang telah menkarunia i’anahnya dan ilmunya serta dengan izin dan do’a kepadanyalah saya bisa menulis makalah ini, dari berbagai macam sumber, hanya semata-mata mengharapkan keridhoaan Allah SWT. Dan mudah-mudahan menjadi alat sebagai motivator untuk mencitai ulama, karna bahwasanya ulama ibarat sumur dan Allah SWT turunkan ilmu agamanya kebumi dalam sumur tersebut, siapa saja yang mengiginkan ilmu tersebut maka sepatutnyalah ia mencintai ulama.
Shalawat beriring dengan salam selalu tercurahkan kepada baginda yang mulia saydina Muhammad SAW. Cerminan bagi ummat dalam menjalani kehidupan untuk mencapai suatu kebenaran dan keridhoaan Allah SWT. Serta kepada ahli keluarganya dan Sahabatnya sekalian.
Shalawat beiring dengan salam juga kepada seluruh ‘alim ulama, baik ulam mutaqaddimin maupun ulama mutaakhirin.
Adapun urutan biografi dalam makalah ini hanya berdasarkan perolehan informasi, bukan karna  ke’liman.
            Terakhir penulis sadari makalah ini masih banyak kekurangan, dimana terdapat kesalahan mohon diberi saran untuk mencapai suatu kebenara karena,”ruju’ ilal haq wajibun”.

                                                                                                                                                                Penulis
                                                                                                                                                               
                                                                                                                                                         Budi gayanto Al-khayry




Daftar isi
1.     Kata pengatar.......................................................................................
2.     Daftar isi...............................................................................................
3.     Abuya Syeh Muda Wali Al-khalidy.......................................................
4.     Abu Ibrahim woyla...............................................................................
5.     Abu Hasan Krung Kale.........................................................................
6.     Syeh Abdurrauf As-singkili...................................................................
7.     Teugku peulumat................................................................................
8.     Abi Thantawi Jauhari...........................................................................
9.     Abu Ahmad Lam Ateuk.......................................................................
10.                                                                                                                                                                                   Abuya Prof. DR. Muhibbuddin Waly...................................................
11.                                                                                                                                                                                   Daftar  blog, web, pustaka..................................................................


















Profil Sheikh Muda Waly al Khalidy An Naqsyabandy Al Asyiy

Bismillahirrahmanirrahim.
Syech Muda Waly
Syech Muda Waly al-Khalidy An-Naqsyabandy Al-Asyiy atau lebih dikenal Syech Muda Waly Al khalidy dilahirkan di Desa Blang Poroh Kecamatan Labuhan Haji Kabupaten Aceh Selatan pada tahun 1917. Beliau adalah putra bungsu dari Syech H. Muhammad Salim bin Malin Palito. Ayah beliau berasal dari Batu sangkar, Sumatra Barat. Beliau datang ke Aceh Selatan awalnya dengan maksud sebagai da’i. Sebelumnya, paman beliau yang masyhur dipanggil masyarakat Labuhan Haji dengan Tuanku Peulumat yang nama aslinya Syech Abdul Karim telah lebih dahulu menetap di Labuhan Haji.
Tak lama setelah Sheikh Muhammad salim menetap di Labuhan Haji, beliau dijodohkan dengan seorang wanita yang bernama Siti Janadat, putri seorang kepala desa yang bernama Keuchik Nya` Ujud yang berasal dari Desa Kota Palak, Kecamatan Labuhan Haji Aceh Selatan. Siti Janadat meninggal dunia pada saat melahirkan adik dari Syech Muda Waly. Beliau meninggal bersama bayinya. Syech Muhammad salim sangat menyayangi Syech Muda Wali melebihi saudaranya yang lain. Kemana saja beliau pergi mengajar dan berdakwah Syech Muda Waly selalu digendong oeh ayahnya. Mungkin Syech Muhammad Salim telah memiliki firasat bahwa suatu saat anaknya ini akan menjadi seorang ulama besar, apalagi pada saat Syech Muda Waly masih dalam kandungan, beliau bermimpi bulan purnama turun kedalam pangkuannya. Nama Syech Muda Waly pada waktu kecil adalah Muhammad Waly.
Pada saat beliau berada di Sumatra Barat, beliau dipanggil dengan gelar Angku Mudo atau Angku Mudo Waly atau Angku Aceh. Setelah beliau kembali ke Aceh masyarakat memanggil beliau dengan Teungku Muda Waly. Sedangkan beliau sering menulis namanya sendiri dengan Muhammad Waly atau lengkapnya Syech Haji Muhammad Waly Al-Khalidy.
Perjalanan pendidikannya Syech Muda Waly belajar Al-Qur’an dan kitab-kitab kecil tentang tauhid, fiqh, dan dasar ilmu Bahasa Arab kepada ayahnya. Di samping itu beliau juga masuk sekolah Volks-School yang didirikan oleh Belanda. Setelah tamat sekolah Volks School, beliau dimasukkan ke sebuah pesantren di Ibukota Labuhan Haji, Pesantren Jam’iah Al-Khairiyah yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Ali yang dikenal oleh masyarakat dengan panggilan Teungku Lampisang dari Aceh Besar sambil beliau sekolah di Vervolg School. Setelah lebih kurang 4 tahun beliau belajar di pesantren Al-Khairiyah beliau diantarkan oleh ayahnya ke pesantren Bustanul Huda di Ibukota Kecamatan Blangpidie. Sebuah pesantren Ahlussunnah wal jama’ah sama seperti Pesantren Al-Khairiyah, yang dipimpin oleh seorang ulama besar yang datang dari Aceh Besar, Syekh Mahmud. Di pesantren Bustanul Huda, barulah beliau mempelajari kitab-kitab yang masyhur di kalangan ulama Syafi’iyah seperti I’anatut Thalibin, Tahrir, dan Mahally dalam ilmu fiqh, Alfiyah dan Ibn ‘Aqil dalm ilmu Nahwu dan sharaf. Setelah beberapa tahun di Pesantren Bustanul Huda, terjadilah satu masalah antara beliau dengan gurunya, Teungku Syech Mahmud. Yaitu perbedaan perdapat antara beliau dengan gurunya tersebut tentang masalah berzikir dan bershalawat sesudah shalat di dalam masjid secara jahar.
Di kemudian harinya Syech Muda Waly ingin melanjutkan pendidikan ke pesantren lainnya di Aceh Besar, tetapi sebelumnya, ayah Syech Muda Waly, Haji Muhammad Salim meminta izin kepada Syech Mahmud, minta do’anya untuk dapat melanjutkan pendidikan ke pesantren lainya dan yang terpenting meminta maaf atas kelancangan Syech Muda Waly berbeda pendapat dengan gurunya dalam masalah tersebut. Berkali-kali beliau dan ayahnya meminta ma’af kepada Syech Mahmud tetapi beliau tidak menjawabnya. Pada akhirnya setelah beliau kembali dari Sumatra Barat dan Tanah suci, Makkah, maka timbullah kasus di Kecamatan Blangpidie. Ada seorang ulama dari kaum Muda dari PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) yang bernama Teungku Sufi, mendirikan Madrasah Islahul Umum di Susuh, Blangpidie, berda’wah dan membangkitkan masalah-masalah khilafiyah.
Dalam satu perdebatan terbuka di Ibukota Kecamatan Blangpidie, dia mengungkapkan dalil dan alasannya sehingga hampir kebanyakan ulama termasuk Teungku Haji Muhammad Bilal Yatim dapat dikalahkan. Tetapi pada waktu giliran perdebatan Teungku Sufi tersebut dengan Syech Muda Waly semua dalil dan alasannya beliau tolak, beliau hancurkan tembok-tembok alasannya sehingga kalah total di depan umum. Tak lama setelah itu barulah Syech Mahmud memaafkan kesalahan Syech Muda Waly yang berani berbeda pendapat dengan gurunya tersebut pada waktu masih belajar di Bustanul Huda. Setelah beberapa tahun belajar di Bustanul Huda, beliau mengungkapkan niatnya untuk melanjutkan pendidikannya ke pesantren di Aceh Besar kepada ayahnya, Syech H. Muhammad Salim. Ayah beliau sangat senang mendengarkan niat beliau. Apalagi Syech H. Muhammad Salim telah mengetahui bahwa putranya ini telah menamatkan kitab-kitab agama yang dipelajari di Pesantren Bustanul Huda.
Sebagai bekal dalam perjalanan beliau dari Labuhan Haji, ayahanda beliau memberikan sebuah kalung emas yang tidak lain merupakan milik kakak kandung Syech Muda Waly, yaitu Ummi Kalsum. Beliau diantar oleh ayahanda beliau dari desanya sampai ke Kecamatan Manggeng. Setelah sampai ke Manggeng, ayahanda beliau berkata ”Biarkan aku antarkan engkau sampai ke Blangpidie”. Sesampainya di Blangpidie, Syech Muhammad Salim berkata kepada putranya, Syech Muda Waly ”biarkan aku antarkan engkau sampai ke Lama Inong”. Pada kali yang ketiga ini Syech Muda Waly merasa keberatan, karena seolah-olah beliau seperti tidak rela melepaskan anaknya merantau jauh untuk menuntut ilmu.
Syech Muda Waly berangkat ke Aceh Besar ditemani seorang temannya yang juga merupakan tamatan dari pesantren Bustanul Huda, namanya Teungku Salim, beliau merupakan seorang yang cerdas dan mampu membaca kitab-kitab agama dengan cepat dan lancar. Sesampainya di Banda Aceh, beliau berniat memasuki Pesantren di Krueng Kale yang dipimpin oleh Syekh H. Hasan Krueng Kale, ayahanda dari Syech H. Marhaban, menteri muda pertanian Indonesia pada masa Soekarno. Beliau sampai di Pesantren Krueng Kale pada pagi hari, pada saat syech Hasan Krueng Kale sedang mengajar kitab-kitab agama. Di antara kitab yang dibacakan adalah kitab Jauhar Maknun. Syech Muda Waly mengikuti pengajian tersebut. Sebelum Dhuhur selesailah pembacaan kitab tersebut, dengan kalimat terakhir Wa huwa hasbi wa ni’mal wakil. Setelah selesai pengajian Syech Muda Waly merasa bahwa syarahan-syarahan yang diberikan oleh Syech Hasan Krueng Kale tidak lebih dari pengetahuan yang beliau miliki dan apabila beliau membacakan kitab tersebut maka beliau juga akan sanggup menjelaskan seperti syarahan yang dipaparkan oleh Syech Hasan Basri. Walaupun demikian beliau tetap menganggap Syech Hasan Krueng Kale sebagai guru beliau. Bagi Syech Muda Waly, cukuplah sebagai bukti kebesaran Syech Hasan Krueng Kale, apabila guru beliau Syech Mahmud Blang Pidie adalah seorang alumnus Pesantren Kurueng Kale. Syech Muda Waly hanya satu hari di Pesantren krueng Kale. Beliau bersama Tengku Salim mencari pesantren lain untuk menambah ilmu. Akhirnya merekapun berpisah. Pada saat itu ada seorang ulama lain di Banda Aceh yaitu Syech Hasballah Indrapuri, beliau memiliki sebuah Dayah di Indrapuri. Pesantren ini lebih menonjol dalam ilmu Al-Qur’an yang berkaitan dengan qiraat dan lainnya. Syech Muda Waly merasakan bahwa pengetahuan beliau tentang ilmu Al-Qur’an masih kurang. Inilah yang mendorong beliau untuk memasuki Pesantren Indrapuri.
Abu Krueng Kalee
Pesantren Indrapuri tersebut dalam sistem belajar sudah mempergunakan bangku, satu hal yang baru untuk kala itu. Pada saat mengikuti pelajaran, kebetulan ada seorang guru yang membacakan kitab-kitab kuning, Syech Muda Waly tunjuk tangan dan mengatakan bahwa ada kesalahan pada bacaan dan syarahannya, maka beliau meluruskan bacaan yang benar beserta syarahannya. Dari situlah Ustadz dan murid-murid kelas itu mulai mengenal anak muda yang baru datang ke pesantren itu dan memiliki pengetahuan yang luas. Maka ustadz tersebut mengajak beliau ke rumahnya dan memerintahkan kepada pengurus pesantren untuk mempersiapkan asrama tempat tinggal untuk beliau, kebetulan sekali pada saat itu perbekalan yang dibawa Syech Muda Waly sudah habis, maka dengan adanya sambutan dari pengurus pesantren tersebut beliau tidak susah lagi memikirkan belanja. Pimpinan Pesantren Indrapuri tersebut, Teungku Syech Hasballah Indrapuri sepakat untuk mengangkat Syech Muda Waly sebagai salah satu guru senior di Pesantren tersebut. Semenjak saat itu Syech Muda Waly mengajar di pesantren tersebut tanpa mengenal waktu. Pagi, siang, sore dan malam semua waktunya dihabiskan untuk mengajar. Tinggallah sisa waktu luang hanya antara jam dua malam sampai subuh. Waktu itupun tetap diminta oleh sebagian santri untuk mengajar. Selama tiga bulan beliau mengajar di Dayah tersebut.
Karena padatnya jadwal beliau dan beliau kelihatan kurus, tetapi alhamdulillah walaupun demikian beliau tidak sakit. Setelah sekian lamanya di Pesantren Indrapuri, datanglah tawaran dari salah seorang pemimpin masyarakat yaitu Teuku Hasan Glumpang Payung kepada Syech Muda Waly untuk belajar ke sebuah perguruan di Padang, Normal Islam School yang didirikan oleh seorang ulama tamatan Al-Azhar, Mesir Ustadz Mahmud Yunus. Teuku Hasan tersebut setelah memperhatikan pribadi Syech Muda Waly, timbullah niat dalam hatinya bahwa pemuda ini perlu dikirim ke Al-Azhar, Mesir. Tetapi karena di Sumatra Barat sudah terkenal ada seorang Ulama yang telah menamatkan pendidikannya di Al-Azhar dan Darul Ulum di Cairo, Mesir yang bernama Ustadz Mahmud Yunus yang telah mendirikan sebuah perguruan di Padang yang bernama Normal Islam School yang sudah terkenal kala itu melebihi perguruan-perguruan sebelumnya seperti Sumatra Thawalib. Oleh sebab itu Teuku Hasan mengirimkan Syech Muda Waly ke pesantren tersebut sebagai jenjang atau pendahuluan sebelum melanjutkan ke al-Azhar.
Berangkatlah Syech Muda Waly menuju Sumatra barat dengan kapal laut. Beliau sama sekali tidak mengetahui tentang Sumatra Barat sedikit pun, di mana letak Normal Islam School dan kemana beliau harus singgah. Tiba tiba saja ada seorang penumpang yang telah lama memperhatikan tingkah laku dan gerak gerik Syech Muda Waly selama di kapal, bersedia membantu Syech Muda Waly untuk bisa sampai ke tempat yang beliau tuju. Setelah sampai di Normal Islam beliau segera mendaftarkan diri di Sekolah tersebut. Lebih kurang tiga bulan beliau di Normal Islam dan akhirnya beliau mengundurkan diri dan keluar dengan hormat dari Lembaga pendidikan tersebut. Hal ini beliau lakukan dengan beberapa alasan : 1. Cita-cita melanjutkan pendidikan kemana saja termasuk ke Normal Islam dengan tujuan memperdalm ilmu agama, karena cita-cita beliau mudah-mudahan beliau menjadi seorang ulama sperti ulama ulama besar lainnya. Tetapi rupanya ilmu agama yang diajarkan di Normal Islam amat sedikit. Sehingga seolah-olah para pelajar disitu sudah dicukupkan ilmu agamanya dengan ilmu yang didapati sebelum memasuki pesantren tersebut. 2. Di Normal Islam pelajaran umum lebih banyak diajarkan ketimbang pelajaran agama. Disana diajarkan ilmu matematika, kimia, biologi, ekonomi, ilmu falak, Sejarah Indonesia, Bahasa Inggris, Bahasa Belanda, Ilmu Khat dan pelajaran olahraga. 3. Di normal Islam beliau harus menyesuaikan diri dengan peraturan-peraturan di lembaga tersebut, Di situ para pelajar diwajibkan memakai celana, memakai dasi, ikut olah raga di samping juga mengikuti pelajaran umum di atas. Menurut hemat Syech Muda Waly, kalau begini, lebih baik beliau pulang ke Aceh mengamalkan dan mengembangkan ilmu yang telah beliau miliki daripada menghabiskan waktu dan usia di Sumatra Barat. Setelah beliau keluar dari Normal Islam, beliau bertemu dengan salah seorang pelajar yang juga berasal dari Aceh dan sudah lama di Padang yaitu Ismail Ya’qub, penerjemah Ihya ‘Ulumuddin. Bapak Ismail Ya’qub menyampaikan kepada Syech Muda Waly supaya jangan cepat-cepat pulang ke Aceh, tetapi menetaplah dulu di Padang, barangkali ada manfaatnya. Pada suatu sore beliau mampir untuk berjamaah maghrib di sebuah surau yaitu di Surau Kampung Jao. Setelah shalat maghrib kebiasaan disurau itu diadakan pengajian dan seorang ustadz mengajar dengan membaca kitab berhadapan dengan para jamaah. Rupanya apa yang dibaca oleh ustaz itu beserta syarahan yang di sampaikan menurut Syech Muda Waly tidak tepat, maka beliau membetulkan. Sehingga ustaz itu dapat menerima. Sedangkan jamaah para hadirin bertanya-tanya tentang anak muda yang berani bertanya dan membetulkan pendapat ustaz itu. Akhirnya para jamaah beserta ustaz tersebut meminta beliau supaya datang kesurau itu untuk menjadi imam solat dan mengajarkan ilmu agama. Begitulah dari hari ke hari, ayahku mulai dikenal dari satu surau ke surau yang lain, dan dari satu mesjid ke mesjid yang lain. Apalagi beliau bukan orang padang, tetapi dari daerah Aceh dan nama Aceh sangat harum dalam pandangan ummat Islam Sumatra barat. Dan yang lebih mengagumkan lagi ialah kemahiran beliau dalam ilmi fiqh, tasawwuf, nahu dan lain. Barulah sejak itu beliau dipangil oleh masyarakat dengan Angku Mudo atau Angku Aceh. Pada masa itu pula sedang hangat-hangatnya di Sumatra Barat tentang masalah-masalah keagamaan yang sifatnya adalah sunat-sunat seperti masalah usalli, masalah hisab dalam memulai puasa Ramadan, hari raya ‘Id al-fitr dan lain lain. Terjadilah perdebatan antara kelompok kaum tua dengan kelompok kaum muda.
Syech Muda Waly berasal dari Aceh dalam kelahiran, dan pendidikannya, tentu saja berpendirian dalam semua masalah masalah itu seperti pendirian para ulama Aceh sejak zaman dahulu,karena semua ulama Aceh khususnya dalam bidang syari’at dan fiqh islam tidak ada bertentangan antara yang satu dengan yang lain. Apalagi ulama ulama Aceh zaman dahulu seperti syeich Nuruddin ar-Raniri, Syeich Abdul Rauf al-Fansuri al-Singkili (Syiahkuala), Syeich Hamzah Fansuri, Syech Syamsuddin as-Sumatrani dan lain lain. Semuanya bermazhab Syafi’i dan antara mereka tidak terjadi pertentangaan dalam syari’at dan fiqh Islam kecuali hamya perbedaan pendapat dalam masalah tauhid yang pelik dan sangat mendalam, yaitu masalah Wahdah al-Wujud, juga masalah hukum Islam yang berkaitan dengan politik, seperti masalah wanita menjadi raja. Karena itulah maka semua masalah masalah kecil di atas sangat dikuasai oleh Syech Muda Waly dalil-dalil hukum dan alasan alasannya, al-Qur’an dan hadist, dan juga dari kitab-kitab kuning. Karena itulah, maka terkenallah beliau di kota padang dan mulai dikenal pula oleh seorang ulama besar di kota padang itu, yaitu syeich Haji Khatib Ali, ayahandanya Prof. Drs. H. Amura. Syeich Khatib Ali ulama besar ahli al-sunnah wa al-jama’ah di Padang. Murid daripada Syeich Ahmad Khatib di Mekkah Al-Mukarramah. Beliu mendapat ijazah ilmu agama dari Syeich Ahmad Khatib dan mendapat pula ijazah Tariqat Naqsyabandiyah daripada Syeich Ustman Fauzi Jabal Qubais Mekkah al-Mukarramah. Yang menjadikan beliu terkenal di padang karena kegigihannya mempertankan ‘aqidah Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah dan Mazhab Syafi`i, di samping pula beliu adalah menantu seorang ulama besar dalam ilmu syari’at dan tariqat, yaitu Syeich Sa’ad Mungka. Syeich Sa’ad Mungka. Syech Khatib Ali sangat tertarik kepada Syech Muda Waly sehingga beliau menjodohkan Syech Muda Waly dengan seorang family beliau yaitu Hajjah Rasimah, yang akhirnya melahirkan Syech Prof. Muhibbuddin Waly. Sejak itulah kemasyhuran Syech Muda Wali semakin meningkat dan terus ditarik oleh ulama-ulama besar lainnya dalam kelompok para ulama kaum tua, tetapi beliau secara tidak langsung juga mengambil hal-hal yang baik dari ulama-ulama lainnya, seperti orag tuanya Buya Hamka, Haji Rasul.
Kemudian Syech Muda waly juga berkenalan dengan Syekh Muhammad Jamil Jaho. Maka beliau mengikuti pengajian yang diberikan oleh Ulama besar Padang tersebut. Hubungan beliau dengan Syech Muda Waly pada mulanya hanya sekadar guru dan murid. Syech Jamil Jaho adalah seorang Ulama Minangkabau, murid Syech Ahmad Khatib. Beliau diakui kealimannya oleh ulama lainnya terutama dalam ilmu bahasa Arab. Di Pesantren jaho itulah Syech Muhammad Jamil Jaho mengumpulkan murid muridnya yang pintar untuk mencoba pengetahuan Syech Muda Waly pada lahiriyahnya mereka seperti mengaji pada Syech Muda Waly tapi pada hakikatnya adalah untuk menguji dan mencoba Syech Muda Waly dengan berbagai ilmu alat. Rupanya semua debatan tersebut dapat dijawab oleh Syech Muda Waly. Dari situlah, Syech Muda Waly semakin terkenal dikalangan para ulama Minangkabau.
Akhirnya Syech Muda Waly dinikahkan dengan putri Syech Muhammad Jamil Jaho yaitu dengan seorang putrinya yang juga alim, Hajjah Rabi’ah yang akhirnya melahirkan Syech H. Mawardi Waly. Akhirnya Syech Muda Waly menempati rumah pemberian paman istri beliau yang pertama, Hajjah Rasimah. Rumah itu terdiri dari dari dua tingkat. Pada bagian bawahnya di gunakan sebagai madrasah tempat majlis ta’lim. Apabila datang hari-hari besar Islam, ummat Islam di Kota Padang beramai-ramai datang ke rumah tersebut. Para Ulama Kota Padang khususnya sering berdatangan ke rumah tersebut karena bila tak ada undangan Syech Muda Waly sibuk mengajar dan berdiskusi dengan para ulama lainnya. Apalagi dalam rumah itu juga tinggal seorang ulama besar lain, Syech Hasan Basri, menantu dari Syech Khatib Ali Padang dan suami dari Hajjah Aminah, ibunda dari istri beliau Hajjah Rasimah.
Pada tahun 1939 Syech Muda Waly menunaikan ibadah haji ke tanah suci bersama salah seorang istri beliau Hajjah rabi’ah. Selama di Makkah beliau tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Selain menunaikan ibadah haji, beliau juga memanfaatkan waktu untuk menimba ilmu pengetahuan dari ulama-ulama yang mengajar di Masjidil Haram antara lain Syech Ali Al-Maliki, pengarang Hasyiah al- Asybah wan-Nadhaair bahkan beliau mendapat ijazah kitab-kitab hadits dari Syech Ali Al-Maliki.
Selama di Makkah Syech Muda Waly seangkatan dengan Syech Yasin Al-Fadani, seorang ulama besar keturunan Padang yang memimpin Lembaga Pendidikan Darul Ulum di Makkah al-Mukarramah. Pada waktu Syech Muda Waly berada di Madinah pada setiap saat shalat beliau selalu menziarahi kuburan yang mulia Rasulullah Saw. Pada waktu itu siapa saja yang menziarahi kuburan Nabi secara dekat, akan dipukul oleh polisi dengan tongkatnya, tetapi pada saat Syech Muda Waly sedang bermunujat dekat makam Rasullualah, beliau didekati oleh polisi, ingin memukul beliau, maka Syech Muda Waly langsung berbicara dengan polisi tersebut dengan bahasa arab yang fasih sehingga polisi tersebut tertarik dengan beliau dan membiarkan beliau duduk lama di dekat maqam Nabi SAW.
Di Madinah Syech Muda Waly berdiskusi dengan para ulama-ulama dari Negeri lain terutama dari Mesir. Beliau tertarik dengan perkembangan ilmu pengetahuan di negeri Mesir, sehingga beliau sudah bertekad menuju ke Mesir, tetapi beliau lupa bahwa pada saat itu beliau membawa istri beliau Hajjah Rabi’ah. Istri beliau keberatan ditinggalkan untuk pulang ke Indonesia. Akhirnya beliau urung berangkat ke Mesir. Selama beliau di Makkah ataupun Madinah beliau tak sempat mengambil ijazah dalam Tahariqat apapun. Hal ini kemungkinan besar karena dua hal : 1. Karena beliau berada di tanah suci lebih kurang hanya tiga bulan, waktu yang sangat singkat bagi beliau yang mempunyai cita-cita besar untuk menggali ilmu dari berbagai ulama. Sehingga habislah waktu beliau hanya untuk menemui dan berdiskusi dengan para ulama lainnya. 2. Pada umumnya para pelajar yang datang ke Tanah suci untuk mengamalkan thariqat, mengambil ijazah, dan berkhalwat harus berada di tanah suci pada bulan Ramadan. Karena pada bulan Ramadhan halaqah pengajian sepi bahkan libur. Seluruh waktu dalam bulan Ramadhan dutujukan untuk beribadah. Sedangkan Syech Muda Waly berada di Tanah suci bukan dalam bulan Ramadhan. Kepulangan Syech Muda Waly dari tanah suci beliau mendapat sambutan dari murid-murid beliau serta dari ulama-ulama Minangkabau lainnya seperti Syech ‘Ali Khatib, Syech Sulaiman Ar-Rasuli, Buya Syech Jamil Jaho. Hal ini dikarenakan, dengan kembalinya Syech Muda Waly, maka bertambah kokoh dan kuatlah benteng Ahlussunnah wal jamaah di padang khususnya.
Di kalangan ulama-ulama besar itu, Syech Muda Waly merupakan yang termuda di antara mereka, sehingga dalam perdebatan-perdebatan ilmu keagamaan yang populer pada masa itu, Syech Muda Waly lebih didahulukan oleh ulama dari kelompok kaum tua untuk menghadapi ulama dari kaum muda. Uniknya kedua belah pihak (Ulama kaum Tua dan Ulama kaum Muda) menampilkan orang-orang muda dari kedua belah pihak. Sehingga antara ulama tua dari kedua belah pihak seolah-olah tidak terjadi perbedaan pendapat. Walaupun Syech Muda Waly telah memiliki ilmu pengetahuan agama yang luas, namun ada hal yang belum memuaskan hati beliau yaitu ilmu yang beliau miliki belum mampu menenangkan batin beliau, akhirnya beliau memutuskan untuk memasuki jalan tasawuf sebagaimana yang telah ditempuh oleh ulama-ulama sebelumnya. Apabila Ar-Raniri di Aceh mengambil tariqat Rifa’iyah dan Syech Abdur Rauf yang lebih dikenal oleh masyarakat Aceh dengan sebutan Teungku Syiah Kuala mengambil tariqah Syatariyah maka Syech Muda Waly memilih Thariqat Naqsyabandiyah, sebuah tariqat yang popular di Sumatra Barat kala itu.
Beliau berguru kepada seorang Ulama besar Tariqah di Sumatra Barat kala itu yaitu Syech Abdul Ghaniy Al-Kamfary bertempat di Batu Bersurat, Kampar, Bangkinang. Beliau bersuluk di sana selama 40 hari lamanya. Menurut sebagian kisah menyebutkan bahwa selama dalam khalwatnya dengan riyadah dan munajat berupa mengamalkan zikir-zikir sebagaimana atas petunjuk Syech Abdul Ghany beliau sempat mengalami lumpuh sehingga tidak bisa berjanji untuk mandi dan berwudhuk. Setelah selesai berkhalwat beliau merasakan kelegaan batin yang luar biasa jauh melebihi kebahagiannya ketika mendapat ilmu yang bersifat lahiriyah selama ini. Beliau mendapat ijazah mursyid dari Syech Abdul Ghani sebagai pertanda bahwa beliau sudah diperbolehkan untuk mengembangkan thariqah Naqsyabandi yang beliau terima.
Setelah mendapat ijazah thariqah beliau kembali ke kota Padang dan mendirikan sebuah Pesantren yang bernama Bustanul Muhaqqiqin di Lubuk Begalung, Padang. Sebuah pesantren yang terdiri dari beberapa surau dan asrama. Banyak murid yang mengambil ilmu di pesantren tersebut bahkan juga santri-santri dari Aceh. Tetapi pada saat Jepang masuk ke Padang, Syech Muda Waly mengambil keputusan pulang ke Aceh karena di Aceh beliau merasa lebih tenang dan nyaman dalam mengamalkan dan mengembangkan ilmu yang telah beliau miliki. Sehingga akhirnya Pesantren yang beliau bangun di Padang lumpuh.
Pulang ke Aceh Setelah Syech Muda Waly berjuang menuntut ilmu pengetahuan melalui pendidikan yang secara lahiriahnya seperti tidak teratur, tetapi pada hakikatnya bagi Allah S.W.T., perjalanan pendidikan beliau selama ini membawa beliau naik ke tingkat martabat ulama dan hamba Allah yang shalih. Maka dengan hasil perjalanan pandidikannya serta pengalaman-pengalaman yang beliau dapati selama ini, rasanya bagi beliau sudah cukup dijadikan pokok utama untuk mengembangkan agama Allah ini dengan pendidikan pesantren di tempat beliau dilahirkan, di Blang Poroh Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan. Meskipun pada waktu itu kata Darusssalam itu belum ada, dan adanya nama ini setelah beliau mendirikan pesantren di desa beliau sendiri. Lebih kurang pada akhir tahun 1939, beliau kembali ke Aceh Selatan melalui parahu layar dari Padang ke Aceh di Kecamatan Labuhan Haji. Beliau disambut dengan meriah oleh ahli famili, para teman dan masyarakat, Labuhan Haji. Setelah beberapa hari beliau berada di desanya, maka beliau bertekad membagnun sebuah pasantren.
Pembangunan sebuah pesantren kali pertama tentu seadanya saja. Maka beliau hanya mendirikan sebuah surau bertingkat dua. Pada tingkat dua di atas sebagai tempat tinggal beliau beserta keluarga, sedangkan pada tingkat bawah dan yang masih tersisa di atas dipergunakan sebagai tempat ibadah. Lahan tempat mendirikan musholla yang diberi oleh famili beliau sangat terbatas, sedangkan jamaah sudah mulai kelihatan berbondong-bondong datang ke surau beliau. Ibu-ibu pada malam selasa dan harinya, sedangkan bapak-bapak pada malam rabu dan harinya pula. Oleh karena itu, maka beliau ingin memperluas lahan untuk betul-betul memulai sebuah pesantren yang dapat menampung santri-santri dengan tempat tinggalnya sekalian, yang dalam istilah Aceh, disebut dengan rangkang-rangkang. Maka beliau berusaha untuk membeli tanah sekitar surau yang ada. Beliau membeli tanah untuk pembangunan pesantren sedikit demi sedikit, hingga mencapai ukuran 400×250 m2. Di atas tanah itulah beliau menampung santri-santri yang berdatangan sedikit demi sedikit, dari Kecamatan Labuhan Haji, dari kecamatan-kecamatan di Aceh Selatan, bahkan juga dari berbagai kabupaten di Daerah Istimewa Aceh.
Berkembanglah pesantren itu, sehingga pelajar-pelajar dari luar daerahpun pada berdatangan, khususnya dari berbagai propinsi di Pulau Sumatra. Pesantren itu beliau bagi-bagi atas berbagai nama, sebagai berikut; Pertama: Darul-Muttaqin;di bagian ini terletak lokasi madrasah, mulai dari tingkat rendah sampai tingkat tinggi dan di sampingnya dibangun sebuah surau besar selaku tempat ibadah. Khususnya dalam pengembangan tariqat Naqsyabandiyah dan dijadikan tempat khalwat atau suluk 40 hari selama ramadhan dengan 10 hari sebelumnya, 10 pada awal zulhijjah, 10 hari pada bulan Rabiul awal.
Kedua, Darul ‘Arifin dilokai ini bertempat tinggal guru-guru yang sebagian besar sudah berumah tangga. Lokasinya agak berdekatan dengan pantai Laut Samudra Hindia
Ketiga, Darul Muta’allimin. Ditempat ini bertempat tinggal para santri pilihan diantaranya anak Syech Abdul Ghani Al-Kampari, guru tasauf Syech Muda Waly.
Keempat, Darus Salikin, di lokasi ini banyak asrama-asrama tempat tinggal para pelajar penuntut ilmu yang juga digunakan sebagai tempat berkhalwat.
Kelima, Darul Zahidin, lokasi yang paling ujung dari lokasi pesantren Darussalam ini. Kalau bukan karena tempat lainnya sudah penuh,maka jarang sekali santri yang mau tinggal di lokasi ini apalagi tempat ini pada mulanya merupakan tambak udang dan ikan.
Keenam, Darul Ma’la; lokasi ini merupakan lokasi nomor satu karena tanahnya tinggi dan udaranyapun bagus dan terletak di pinggir jalan.
Semua lokasi ini dinamakan oleh syech Muda Waly dengan nama demikian sebagai tafaul kepada Allah semoga semua santri yang belajar disitu menjadai hamba-hamba Allah yang senantiasa menuntut ilmu (Al Muta’allimin), hamba-hamba yang zahid, mengutamakan akhirat dari pada dunia (Az-Zahidin), hamba hamba yang shalih mendapat tempat terhormat baik disisi Allah maupun dalam pandangan masyarakat. Tak lama kemudian beliau menikah dengan seorang wanita dari desa Pauh, Labuhan Haji. Kemudian beliau mendirikan sebuah pesantren lain di Ibukota Kecamatan. Pesantren ini merupakan sebuah pesantren khusus, pelajarnya juga tidak banyak. Para pelajar di pesantren ini secara langsung berhadapan dengan kaum orang-orang yang berfaham wahabi sehingga mendatangkan persaingan pengembangan ilmu pengetahuan agama melalui perdebatan yang diadakan para pelajar membahas masalah-masalah khilafiyah dengan dalil-dalilnya menurut pendirian ulama ahlussunnah waljamaah. Di pesantren inilah diadakan pengajian yang dikuti oleh semua lapisan masyarakat bahkan juga dikuti oleh kalangan Muhammadiyah dan golongan Salik Buta sehingga menjadikan majlis ini majlis yang dipenuhi dengan pertanyaan dan debatan yang ditujukan kepada Syech Muda Waly. Namun semuanya dapat dijawab oleh Syech Muda Waly dengan jawaban ilmiah yang memuaskan.
PENDIDIKAN PESANTREN
Di pesantren yang beliau bangun itu Syech Muda Waly mengajarkan kepada masyarakat ilmu agama. Khusus untuk kaum ibu pada hari malam selasa, senin, atau malam senin. Pada malam senin kaum ibu ibu mendapat ceramah agama dari guru guru yang telah ditetapkan oleh beliau. Sedangkan pada selasa pagi sebelum zuhur, setelah pengajian subuh, semua kaum ibu-ibu yang bermalam di pesantren ikut membangaun pesantren dengan menimbun sebagian lokasai pesantren yang belum rata dengan batu yang diambil dari pantai. Satu yang aneh dan luar biasa, batu itu dihempaskan oleh gelombang air laut ke pantai dan batu-batu itu berwarna putih bersih. Dan ini hanya terjadi di pantai yang berada di dekat pesantren. Setelah shalat Dhuhur para ibu-ibu tersebut mendapat ceramah dari guru yang telah ditentukan oleh Syech Muda Waly yang kemudian dilanjutkan dengan tawajuh dalam tariqat Naqayabandiyah dan shalat ashar.
Sedangkan waktu untuk kaum laki-laki adalah pada selasa malam mulai maghrib hingga larut malam. Pada setiap bulan Ramadhan Syech Muda Waly mengadakan khalwat untuk masyarakat yang dimulai sejak sepuluh hari sebelum Ramadan sampai harai raya idul fitri. Ada yang berkhalwat selama 40 hari ada juga yang 30 hari dan ada juga yang 20 hari. Selain dalam bulan Ramadan, khalwat juga diadakan dalam bulam Rabiul Awal selama 10 hari. Demikian juga pada bulan Zulhijjah selama 10 hari semenjak tanggal satu sampai 10 Zulhijjah. Sistem pendidikan pesantren yang diterapkan oleh syech Muda Waly terbagi kepada dua:
Pertama: sistem qadim, yakni sitem pendidikan yang telah berjalan bagi para ulama sebelumnya. Sistem ini menekankan supaya kitab-kitab yang dipelajari mesti khatam. Oleh Karena guru hanya membaca, menerjemahkan dan menjelaskan sepintas lalu makna yang terkandung di dalamnya. Menurut beliau sistem ini kita bagikan naik bus pada malam hari, yang kita lihat hanyalah jalan yang disorot oleh lampu bus saja. Walaupun perjalanannya panjang dan banyak yang kita lihat tetapi hanyalah sekedar jalan yang diterangi oleh lampu bus saja, sedangakan di kiri dan kanannya kita tidak melihatnya.
Kedua: sistem madrasah. Pada sitem ini para pelajar sudah mengunakan bangku dan papan tulis. Pada sitem kedua ini tidak ditekankan pada khatam kitab, tetapi harus banyak diskusi untuk pendalaman. Sebagai contoh, apabila pelajaran fiqh yang dibaca adalah kitab Tuhfah Al-Muhtaj syarah Minhajul Thalibin, maka yang dibaca hanya sekitar 10 baris saja, dilanjutkan dengan pembahasan pada matannya, syarahnya serta Hasyiah-hasyiahnya serta pendalaman berdasarkan dalil-dalilnya baik dari Al-Qur’an, Al-Hadis ataupun disiplin ilmu lainnya. Ini memang memakan waktu yang lama, tetapi bila para santri terbiasa dengan sistem ini maka akan menghasilkan pemahaman yang mendalam dalam memahami kitab kuning.
Rupanya kedua sistem ini sangat menarik sehingga banyak santri yang berdatangan ke Darussalam yang berasal dari berbagai daerah.
Syech Muda Waly mengamalkan ilmunya dengan luar biasa.pukul 6.00 pagi beliau mengajar semua santri muali dari tingkat yang paling rendah sampai yang paling tinggi.Disini terbuka pintu bagi semua santri untuk menanyakan segala sesuatu tentang lafaz yang beliau baca. Pukul 09.00 pagi setelah sarapan dan shalat dhuha beliau mengajar pada tingkat yang lebih tinggi, yang terdiri dari para dewan guru. Kitab yang dibaca adalah Tuhfah Al-Muhtaj, Jam’ul Jawami’ dan kitab besar lainnya sampai waktu ashar.
Sesudah asar beliau juga menyediakan waktu bagi siapa saja yang berminat mengambil ilmu dari beliau. Syech Muda Waly sangat disiplin dalam mengajar sehingga dalam kondisi sakitpun beliau tetap mengajar. Pernah pada satu kali pada saat beliau sakit, para murid beliau sepakat untuk tidak mendebat beliau, tetapi hanya mendengarkan penjelasan dari beliau. Rupanya hal ini membuat beliau marah, kenapa para murid beliau tidak mendebat beliau. Pertanyaan dan debatan dari murid-murid beliau rupanya menjadi obat yang sangat mujarab bagi beliau. Tetapi beberapa saat setelah mengajar beliau kembali jatuh sakit. Ketekunan dan kedisiplinan beliau dalam mendidik muridnya telah membuahkan hasil yang luar biasa, sehingga dari beliau lahirlah puluhan ulama ulama yang menjadi benteng Ahlussunnah di Aceh dan sekitarnya. Hampir seluruh pesantren di Aceh sekarang ini mempunyai pertalian keilmuan dengan beliau dan dari murid-murid beliau lahir pulalah ulama-ulama terpandang dalam masyarakat.
Dengan adanya perjuangan beliau perkembangan faham wahabi dan ide pembaruan terhadap ajaran Islam yang telah menjalar ke sebagian tokoh-tokoh di Aceh dapat ditekan. Beliau sangat istiqamah dengan faham Ahlussunnah dan mazhab Syafi’i. Di antara murid-murid beliau adalah
1.      Al-Marhum Tgk. H. Abdullah Hanafiah Tanoh Mirah, pimpinan Dayah Darul Ulum, Tanoh Mirah, Bireun
2.      Al-Marhum Tgk. Abdul Aziz bin Shaleh, pimpinan pesantren MUDI MESRA (Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah) Samalanga, Bireun.
3.      Al-Marhum Tgk. Muhammad Amin Arbiy. Tanjongan, Samalanga, Bireun.
4.      Tgk. H. Muhammad Amin Blang Bladeh (Abu Tumin) pimpinan pesantren Al-Madinatut Diniyah Babussalam, Blang Bladeh Bireun.
5.      Teungku H. Daud Zamzamy. Aceh Besar.
6.      Al Marhum Tgk. Syech Syihabuddin Syah (Abu Keumala), pimpinan pesantren Safinatussalamah, Medan.
7.      Teungku Adnan Mahmud pendiri pesantren Ashabul Yamin Bakongan Aceh Selatan.
8.      Al-Marhum Tgk Syech Marhaban Krueng Kalee (putra Syech Hasan Krueng Kale) mantan menteri muda era Sukarno.
9.      Al-Marhum Tgk.Muhammad Isa Peudada
10.  Al-Marhum Tgk. Ja’far Shiddiq Kuta Cane
11.  Al-Marhum Tgk. Abu Bakar sabil, Meulaboh Aceh Barat
12.  Al-Marhum Tgk. Usman Fauzi, Cot Iri, Aceh Besar.
13.  Syech. Prof. Muhibbuddin Waly (putra beliau sendiri yang paling tua)
14.  Al-Marhum Syech Jailani
15.  Al-Marhum Syech Labai Sati, Padang Panjang
16.  Al-Marhum Tgk. Qamaruddin, Teunom. Aceh Barat
17.  Tgk. Syech Jamaluddin Teupin Punti, Lhok Sukon, Aceh Utara
18.  Tgk. Syech Ahmad Blang Nibong Aceh Utara
19.  Tgk. Syech Abbas Parembeu, Aceh Barat
20.  Tgk. Syech Muhahammad Daud, Gayo
21.  Tgk. Syech Ahmad, Lam Lawi, Aceh Pidie
22.  Tgk. Muhammad Daud Zamzami, Aceh Basar.
23.  Tuanku Idrus, Batu Basurek, Bangkinang
24.  Al-Marhum Tgk. Syech Amin Umar, Panton Labu
25.  Syech Nawawi Harahap, Tapanuli
26.  Al-Marhum Tgk Syech Usman Basyah, Langsa
27.  Tgk. Syech Karimuddin, Alue Bilie, Aceh Utara
28.  Tgk. Syech Basyah Kamal Lhoung, Aceh Barat.
Dan lain-lain banyak lagi. Selain meninggalkan murid, beliau juga meninggalkan beberapa tulisan diantaranya :
1.      Al-Fatawa, Sebuah kitab dalam bahasa Indonesia dengan tulisan Arab, berisi kumpulan fatwa beliau mengenai berbagai macam permasalahan agama;
2.      Tanwirul Anwar, berisi masalah masalah aqidah;
3.      Risalah adab zikir Ismuz Zat;
4.      Permata Intan, sebuah risalah singkat berbentuk soal-jawab mengenai masalah i’tidaq;
5.      Intan Permata, risalah singkat berisi masalah tauhid Dalam risalah yang terakhir (Intan Permata) beliau memberi keputusan tentang perdebatan Syech Ahmad Khatib dengan Syech Sa’ad Mungka, beliau menyebutkan: “Ketahuilah hai segala ummat Ahlissunnah waljamah,bahwasanya karangan yang mulia Syech Ahmad al-Khatib yang bernama: Izhar Zighlil-Kazibin, tentang membantah Rabithah dan Thariqat Naqsyabandiyah itu adalah silap dan salah paham dari Syech yang mulia itu, karena beliau itu telah ditolak oleh yang mulia Syech Sa’ad Mungka Payakumbuh (Sumatra Tengah) dengan kitabnya Irghamu Unufil Muta`annitin. Kemudian kitab ini dijawab pula oleh yang mulia Syech Ahmad al khatib dengan kitabnya as-Saiful Battar. Kitab ini pun ditolak oleh yang mulia Syech As’ad Mungka dengan kitabnya yang bernama Tanbihul ‘Awam. Pada akhirnya patahlah kalam Tuan Syech Ahmad al-Khatib. Karena itu maka hamba yang faqir ini, Syech Muhammad Waly al-Khalidy sebabnya mengambil Thariqat Naqsyabandiyah adalah setelah muthala’ah pada karangan-karangan Syech Ahmad Khathib dan karangan karangan Syech Sa’ad Mungka dimana antara karangan kedua-dua orang ulama itu sifatnya soal jawab dan debat-berdebat. Perlu diketahui bahwa Tuan Syech Ahmad Khatib itu murid Sayyid syech Bakrie bin Sayyid Muhammad Syatha. Sedangkan Tuan Syech As’ad Mungkar murid Mufti Az-Zawawy, gurunya Syech Usman Betawi yang masyhur itu. Maka muncullah kebenaran di tangan Tuan Syech Sa’ad Mungka apalagi saya telah melihat pula kitab as-Saiful Maslul karangan ulama Madinah selaku menolak kitab Izhar Zighlil Kazibin. Oleh sebab itu bagi murid-muridku yang melihat karangan Syech Ahmad Khatib itu janganlah terkejut, karena karangan beliau itu ibarat harimau yang telah dipancung kepalanya.”
Syech Muda Waly bukan hanya berperan dalam menyebarkan ilmu agama saja, tapi beliau memiliki andil yang besar dalam mempertahankan kemerdekaan dan keutuhan Republik Indonesia. Dalam mempertahankan proklamasi 17 agustus 1945 para ulama Aceh tampil ke depan dengan mengeluarkan fatwa jihad fi sabilillah dan mendirikan barisan-barisan perjuangan. Pada tanggal 18 Zulqa’idah 1364 Teungku Syech Hasan Krueng Kalee mengeluarkan fatwa dengan menyatakan bahwa perjuangan mempertahankan Republik Indonesia dan berperang menentang musuh-musuh Allah adalah suatu kewajiban dan apabila mati dalam peperangan itu akan mendapat pahala syahid.
Di samping itu juga diterangkan pula hendaklah ummat Islam mengorbankan jiwa dan harta untuk menolong agama Allah dan menolong negara yang sah. Fatwa itu disebarkan luas ke seluruh Aceh melalui pemuda-pemuda Aceh yang tergabung dalam Barisan Pemuda Indonesia yang kemudian menjadi Pemuda Republik Indonesia. Berdasarkan itu Syech Muda Waly di Labuhan Haji memperkuat fatwa tersebut melalui pengajian-pengajian dan ceramah-ceramah umum. Bahkan beliau menjabat sebagai pimpinan tertinggi dalam barisan Hizbullah, meskipun dalam pelaksanaannya banyak diserahkan kepada keponakannya yang juga merupakan seorang ulama muda yang kemudian menjadi menantu beliau.
Di samping itu Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) yang dipimpin oleh Nyak Diwan telah membawa satu barisan perjuanagan dari Sumatra barat yang disebut Lasymi (Laskar Muslimin Indonesia). Antara kedua laskar ini saling mengisi demi memperjuangkan Ahlussunnah dan mempertahankan kedaulatan Negara dari tangan penjajah. Peristiwa berdarah di Aceh Dalam mempertahankan keutuhan negara Indonesia, beliau juga memiliki peran yang sangat penting.
Pada tanggal 13 Muharram 1373 /21 september 1953 meletuslah peristwa berdarah di Aceh yaitu peristiwa DI/TII yang dipimpin oleh Tgk. Muhammad Daud Bereueh, mantan Gubernur Militer Aceh Langkat dan Tanah Karo dan mantan Gubernur Aceh dan merupakan salah seorang pemimpin utama PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh). Beliau memang tidak bergabung dalam PUSA karena sebagian besar ulama ynag bergabung dalam PUSA telah terpengaruh dengan ide pembaruan dalam Islam dari Minangkabau. Dalam hal ini para ulama besar di Aceh yang terdiri dari Kaum Tua antara lain Syech Muda Waly, Syech Hasan Krueng Kalee, Teungku Abdul Salam Meuraksa, Teungku Saleh Mesigit Raya dan ulama lainnya tidak mendukung gerakan ini, karena mereka mengetahui bahwa latar belakang kejadian ini bukanlah hal-hal yang dikaitkan dengan agama tetapi hanyalah hal-hal yang dikaitkan dengan dunia semata. Oleh karena itu para ulama tersebut mengeluarkan fatwa mengutuk pemberontakan tersebut atas nama para ulama-ulama tersebut. Akan tetapi karena semua ulama tersebut berada dalam PERTI maka penonjolannya lebih terlihat atas nama PERTI. Teungku Syech Muda Waly pada tanggal 18 November 1959 dalam suatu rapat umum di Labuhan Haji mengharamkan pemberontakan tersebut, dan beliau menyatakan siap memberi bantuan menurut kesanggupan beliau. Para ulama-ulama tersebut sangat menyayangkan kenapa faktor-faktor pemberontakan tersebut tidak dimusyawarahkan terlebih dahulu dengan para ulama-ulama besar di Aceh. Sehingga segala permasalahan dapat diselesaikan tanpa harus melalui peristiwa berdarah.
Karena jasa beliau itu, beliau pernah diundang oleh Presiden Sukarno ke istana Bogor pada tahun 1957untuk menghadiri Konferensi Ulama Indonesia untuk memutuskan kedudukan Presiden Sukarno menurut Islam. Dalam konferensi tersebut beliau para ulama dari seluruh Indonesia sepakat menyatakan bahwa presiden Sukarno itu presiden yang sah dengan prediket Wali al Amri al-Dharury bi al-Syaukah.
Setelah berjuang demi tegaknya agama ini, akhirnya Syech Muda Waly kembali ke hadapan Allah pada tanggal 11 syawal 1381/20 maret 1961 tepat pukul 15.30 WIB hari selasa. Jenazah beliau dishalatkan oleh ulama dan murid-murid beliau serta masyarakat yang terjangkau kehadirannya ke Dayah Labuhan Haji, karena pada zaman itu kendaraan umum masih sangat minim di Aceh selatan. Beliau dimakamkan dalam komplek Dayah Labuhan Haji yang beliau pimpin.
Selanjutnya kepemimpinan Pesantren tersebut dilanjutkan oleh putra-putra beliau secara bergantian antara lain Syech Muhibbuddin Waly, Syech Jamaluddin Waly, Syech Mawardi Waly, Syech Nasir Waly, Syech Ruslan Waly dan putra-putra beliau lainnya. Hal ini karena hampir semua putra beliau menjadi ulama-ulama terkemuka.
Beliau bukan hanya berhasil dalam mendidik murid-muridnya tetapi juga berhasil mendidik putra putranya menjadi ulama-ulama yang gigih mempertahankan faham Ahlussunnah wal jamaah. Keberhasilan beliau dapat terlihat dengan jelas, dimana sekarang ini hampir semua pesantren tradisional di Aceh mempunyai silsilah keilmuan dengan beliau.
Coba kita lihat beberapa pesantren diAceh saat ini antara lain ;
1.      Pesantren LPI MUDI MESRA, Samalanga dipimpin oleh Teungku H. Hasanoel Basry (Abu Mudi) murid dari Syech Abdul Aziz (murid Syech Muda Waly, pimpinan MUDI MESRA sebelumnya);
2.      Pesantren Al Madinatud Diniyah Babusslam Blang Bladeh, Bireun dipimpin oleh Syech H. Muhammad Amin Blang Bladeh (murid Syech Muda Waly);
3.      Pesantren Malikussaleh Panton Labu Aceh utara, dipimpin oleh Syech H. Ibrahim Bardan (murid Syekh Abdul Aziz, Samalanga);
4.      Pesantren Darul Huda Lhueng Angen, Lhok Nibong, Aceh Utara, dipimpin oleh Syech Abu Daud (murid Syech Abdul Aziz, Samalanga);
5.      Pesantren Darul Munawwarah, Kuta Krueng, Bandar Dua. Pidie Jaya, dipimpin oleh Tgk. H. Usman Kuta Krueng (murid Syech Abdul Aziz, Samalanga);
6.      Pesantren Darul Ulum, Tanoh Mirah Bireun, dipimpin oleh Tgk. Muhammad Wali, putra Syech Abdullah Hanafiah, (murid Syech Muda waly dan pimpinan pesantren tersebut sebelumnya);
7.      Pesantren Raudhatul Ma’arif Cot Trueng Aceh Utara, dipimpin oleh Tgk. H. Muhammad Amin (murid Syech Abdul Aziz, Samalanga);
8.      Pesantren Darul Huda, Paloh Gadeng Aceh Utara dipimpin oleh Syech Mustafa Ahmad (Abu Mustafa Puteh, murid Syech Muhammad Amin Blang Bladeh);
9.      Pesantren Ashhabul Yamin, Bakongan, Aceh Selatan, dipimpin oleh Syech Marhaban Adnan (murid Syech Abdul Aziz, Samalanga, putra Syech Adnan Mahmud Bakongan);
10.  Pesantren Ruhul Fata, Seulimum, Aceh Besar, dipimpin oleh Tgk. H. Mukhtar Luthfy (murid Syech Abdul Aziz, Samalanga);
11.  Pesantren Serambi Makkah, Meulaboh, Aceh Barat dipimpin oleh Syech Muhammad Nasir L.c (murid Syech Abdul Aziz, Samalanga putra Abuya Syech Muda Waly);
12.  Bahrul Ulum Diniyah Islamiyah (BUDI) Lamno, Aceh Jaya dipimpin oleh Tgk. H. Asnawi Ramli, sebelumnya dipimpin oleh Tgk. Syech Ibrahim Lamno (murid Syech Abdul Aziz Samalanga);
13.  Yayasan Dayah Ulee Titi, Ulee Titi, Aceh Besar, dipimpin oleh Tgk. Syech Athaillah (murid Syech Ibrahim Lamno).
Kesemua Pesantren tersebut dan beberapa pesantren lainnya mempunyai pertalian keilmuan dengan Syech Muda Waly.
Demikianlah manaqib singkat Syech Muda Waly yang lebih populer dalam masyarakat Aceh dengan sebutan Abuya Muda Waly, seorang ulama yang sangat berperan dalam mempertahankan Faham Ahlussunnah dan mazhab Syafi’i di bumi Aceh. Seorang Ulama besar yang bisa dikatakan sebagai Mujaddid untuk Aceh dan sekitarnya. Semoga Allah menempatkan beliau di sisinya yang tinggi. Dan semoga Allah melahirkan Syech Muda Waly lainnya untuk Aceh ini khususnya dan untuk ummat Islam lainnya.
Ditulis oleh Tgk. Mursyidi ‘Ar Ali Santri LPI MUDI MESRA Samalanga.
Maraji’:
1.      Prof.Muhibbuddin Waly, Ayah Kami Haji Muhammad Waly Al Khalidy;
2.      KH. Sirajuddin Abbas, Keagungan Mazhab Syafii
3.      ………., Ulama Syafi’i dan Kitabnya dari abad ke abad;
4.      Tgk. Syech Syihabuddin Keumala, Wazifah Abuya;
5.      Shabri A, dkk. Biografi Ulama-Ulama Aceh Abad xx jilid I

Dirangkum kembali oleh: Burhanuddin
Sumber: MURSYID MUDI














Biografi Abu Ibrahim Woyla
Abu Ibrahim Woyla adalah seorang ulama pengembara. Ulama ini dalam masyarakat Aceh lebih dikenal dengan Abu Ibrahim Keramat. Belum pernah terjadi dalam sejarah di Woyla (Aceh Barat) bila seseorang meninggal ribuan orang datang melayat (takziah) kecuali pada waktu wafatnya Abu Ibrahim Woyla. Selama hampir 30 hari meninggalnya Abu Ibrahim Woyla masyarakat Aceh berduyun-duyun datang melayat ke kampung Pasi Aceh, Kecamatan Woyla Induk, Aceh Barat sebagai tempat peristirahatan terakhir Abu Ibrahim Woyla. Selama 30 hari itu ribuan orang setiap hari tak kunjung henti datang menyampaikan duka cita  mendalam atas wafatnya Abu Ibrahim Woyla, sehingga pihak keluarga menyediakan 400 kotak air aqua gelas dan tiga ekor lembu setiap hari dari sumbangan mantan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf untuk menjamu tamu yang datang silih berganti ke tempat wafatnya Abu Ibrahim Woyla. Begitulah pengaruh ke-ulama-an Abu Ibrahim Woyla dalam pandangan masyarakat Aceh, terutama di wilayah Aceh Barat dan Aceh Selatan.

Abu Ibrahim Woyla yang bernama lengkap Teungku (Ustadz/Kiyai) Ibrahim bin Teungku Sulaiman bin Teungku Husen dilahirkan di kampung Pasi Aceh, Kecamatan Woyla, Kabupaten Aceh Barat pada tahun 1919 M. Menurut riwayat, pendidikan formal Abu Ibrahim Woyla hanya sempat menamatkan Sekolah Rakyat (SR), selebihnya menempuh pendidikan Dayah (Pesantren Salafi/Tradisional) selama hampir 25 tahun. sehingga dalam sejarah masa hidupnya Abu Ibrahim Woyla pernah belajar 12 tahun pada Syeikh Mahmud seorang ulama asal Lhok Nga Aceh Besar yang kemudian mendirikan Dayah Bustanul Huda di Blang Pidie Aceh Barat. Di antara murid Syeikh Mahmud ini selain Abu Ibrahim Woyla juga Syeikh Muda Waly Al-Khalidy yang kemudian sebagai seorang ulama tareqat naqsyabandiyah tersohor di Aceh.

Menurut keterangan, Syeikh Muda Waly hanya sempat belajar pada Syeikh Mahmud sekitar 4 tahun, kemudian pindah ke Aceh Besar dan belajar pada Abu Haji Hasan Krueng Kale selama 2 tahun. setelah itu Syeikh Muda Waly pindah ke Padang dan belajar pada Syeikh Jamil Jaho Padang Panjang. Dua tahun di Padang Syeikh Muda Waly melanjutkan pendidikan ke Mekkah atas kiriman Syeikh Jamil Jaho, setelah 2 tahun di Mekkah kemudian Syeikh Muda Waly kembali ke Blang Pidie dan melanjutkan mendirikan Pesantren Tradisional di Labuhan Haji Aceh Selatan. Saat itulah Abu Ibrahim Woyla sudah mengetahui bahwa Syeikh Muda Waly telah kembali dari Mekkah dan mendirikan Pesantren, maka Abu Ibrahim Woyla kembali belajar pada Syeikh Muda Waly untuk memperdalam ilmu tareqat naqsyabandiyah. Namun sebelum itu Abu Ibrahim Woyla pernah belajar pada Abu Calang (Syeikh Muhammad Arsyad) dan Teungku Bilyatin (Suak) bersama rekan seangkatannya yaitu (alm) Abu Adnan Bakongan.

Setelah lebih kurang 2 tahun memperdalam ilmu tareqat pada Syeikh Muda Waly, Abu Ibrahim Woyla kembali ke kampung halamannya, tapi tak lama setelah itu Abu Ibrahim Woyla mulai mengembara yang dimana keluarga sendiri tidak mengetahui kemana Abu Ibrahim Woyla pergi mengembara. Menurut riwayat dari Teungku Nasruddin (menantu Abu Ibrahim Woyla) semasa hidupnya Abu Ibrahim Woyla pernah menghilang dari keluarga selama tiga kali, Pertama, Abu Ibrahim Woyla menghilangkan diri selama 2 bulan,Kedua, Abu Ibrahim Woyla menghilang selama 2 tahun dan Ketiga, Abu Ibrahim Woyla menghilangkan diri selama 4 tahun yang tidak diketahui kemana perginya.

Dalam kali terakhir inilah Abu Ibrahim Woyla kembali pada keluarganya di Pasi Aceh, pihak keluarga tidak habis pikir pada perubahan yang terjadi pada Abu Ibrahim Woyla. Rambut dan jenggotnya sudah demikian panjang tak ter-urus, pakaiannya sudah compang camping dan kukunya panjang seadanya. mungkin bisa kita bayangkan seseorang yang menghilang selama 4 tahun dan tak sempat untuk mengurus dirinya. Begitulah kondisi Abu Ibrahim Woyla ketika kembali ke tengah keluarganya setelah 4 tahun menghilang, maka wajar bila secara duniawiyah dalam kondisi seperti itu sebagian masyarakat Woyla menganggap Abu Ibrahim Woyla sudah tidak waras lagi.

Abu Ibrahim Woyla oleh banyak orang dikenal sebagai ulama agar pendiam dan ini sudah menjadi bawaannya sewaktu kecil hingga masa tua. Beliau hanya berkomunikasi bila ada hal yang perlu untuk disampaikan sehingga banyak orang yang tidak berani bertanya terhadap hal-hal yang terkesan aneh bila dikerjakan Abu Ibrahim Woyla. Sikap Abu Ibrahim Woyla seperti itu sangat dirasakan oleh keluarganya, namun karena mereka sudah tau sifat dan pembawaannya demikian, keluarga hanya bisa pasrah terhadap pilihan jalan hidup yang ditempuh Abu Ibrahim Woyla yang terkadang sikap dan tindakannya tidak masuk akal. Tapi begitulah orang mengenal sosok Abu Ibrahim Woyla.

Abu Ibrahim Woyla memiliki dua orang isteri, isteri pertama bernama Rukiah, dari hasil pernikahan ini Abu Ibrahim Woyla dikaruniai 3 orang anak, seorang laki-laki dan 2 perempuan. yang laki-laki bernama Zulkifli dan yang perempuan bernama Salmiah dan Hayatun Nufus. Sementara pada isteri keduanya yang beliau dinaki di Peulantee, Aceh Barat, dua tahun sebelum beliau meninggal tidak dikaruniai anak.

Menurut cerita tatkala isteri pertamanya hamil 6 bulan untuk anak pertama yang dikandung Ummi Rukian, kondisi Abu Ibrahim Woyla saat itu seperti tidak stabil, sehingga beliau mengatakan pada isterinya "Saya mau belah perut kamu untuk melihat anak kita", kata Abu Ibrahim Woyla pada isterinya yang pada saat itu membuat keluarganya tak habis pikir terhadap apa yang diucapkan Abu Ibrahim Woyla pada isterinya itu. Karena perkataan seperti itu dianggap perkataan yang sudah diluar akal sehat, maka keluarga dengan cemas menggatakan kita tidak tahu apa yang dimaksudkan oleh Abu Ibrahim Woyla yang meminta untuk membelah perut isterinya yang sedang mengandung 6 bulan. Meskipun begitu, perkataan yang pernah diucapkan itu tak pernah dilakukannya.

Pada tahun 1954 sebenarnya tahun yang sangat membahagiakan bagi pasangan suami-isteri karena pada tahun itu lahir anak pertama dari pasangan Abu Ibrahim Woyla dan Ummi Rukiah, akan tetapi kehadiran seorang pertama itu bagi Abu Ibrahim Woyla bukanlah sesuatu yang istimewa. Abu Ibrahim Woyla saat itu hanya pulang sebentar menjenguk anaknya yang baru lahir, kemudian beliau pergi kembali mengembara entah kemana. Ketika anak pertamanya yang diberi nama Salmiah sudah besar, menurut cerita Teungku Nasruddin barulah kondisi Abu Ibrahim Woyla kembali normal hidup bersama keluarganya. Dan saat itu Abu Ibrahim Woyla sempat membuka lahan perkebunan di Suwak Trieng untuk menjadi harta yang ditinggalkan untuk keluarganya di kemudian hari.

Pada saat itu kehidupan Abu Ibrahim Woyla bersama keluarganya sudah sangat harmonis hingga lahir anak kedua, Hayatun Nufus dan anaknya yang ketiga Zulkifli. Semua keluarganya sangat bersyukur karena Abu Ibrahim Woyla telah tinggal bersama keluarganya. Namun apa mau dikata, tak lama setelah lahir anaknya yang ketiga Abu Ibrahim Woyla kembali meninggalkan keluarganya dan entah kemana. Sehingga Ummi Rukiah tidak tahan lagi dengan ketidakpedulian Abu Ibrahim Woyla terhadap nafkah keluarganya, isterinya minta untuk pulang ke Blang Pidie daerah asalnya.

Alasan isterinya untuk pulang ke Blang Pidie memang tepat, karena menurutnya Abu Ibrahim Woyla tidak lagi peduli kepada keluarga, beliau hanya asyik berzikit sendiri dan pergi kemana beliau suka. akan tetapi, keinginan Ummii Rukian untuk kembali ke Blang Pidie tidak terwujud karena Allah mempersatukan Abu Ibrahim Woyla dan isterinya sampai akhir hayatnya.

Bila kita dengar kisah dan cerita tentang Abu Ibrahim Woyla semasa hidupnya tak ubah seperti kita membaca kisah para sufi dan ahli tashawwuf. Banyak sekali tindakan yang dikerjakan Abu Ibrahim Woyla semasa hidupnya yang terkadang tidak dapat diterima secara rasional, karena kejadian yang diperankannya termasuk di luar jangkauan akal pikiran manusia. Untuk mengenal prilaku Abu Ibrahim Woyla haruslah menggunakan pikiran alam lain sehingga menemukan jawaban apa yang dilakukan Abu Ibrahim Woyla itu benar adanya.

Itulah keajaiban-keajaiban yang melekat pada sosook Abu Ibrahim Woyla, yang oleh sebagian ulama di Aceh menilai bahwa Abu Ibrahim Woyla adalah seorang ulama yang sudah mencapai tingkat Waliyullah (Wali Allah). hal itu diakui Teungku Nasruddin, memang banyak sekali laporan masyarakat yang diterima keluarga menceritakan seputar keajaiban kehidupan Abu Ibrahim Woyla. Hal ini terbukti semasa hidupnya Abu Ibrahim Woyla selalu mendatangi tempat-tempat dimana umat selalu dalam kesusahan, kegelisahan dan musibah beliau selalu ada di tengah-tengah masyarakat itu. Namun orang sulit memahami maksud dan tujuan Abu Ibrahim Woyla untuk apa beliau mendatangi tempat-tempat seperti itu, karena kedatangannya tidak membawa pesan atau amanah apapun bagi masyarakat yang didatanginya. Abu Ibrahim Woyla hanya datang berdoa di tempat-tempat yang ia datangi, tutur Teungku Nasruddin.

Dalam hal ini Ustadz (Teungku disingkat Tgk) Muhammad Kurdi Syam ( seorang warga Kayee Unoe, Calang yang sangat mengenal Abu Ibrahim Woyla menceritakan bahwa Abu Ibrahim Woyla kebetulan sedang berjalan kaki, beliau terkadang masuk ke sebuah rumah tertentu milik masyarakat yang dilawatinya, ia mengelilingi rumah tersebut sampai beberapa kali kemudian berhenti pas di halaman rumah itu dan menghadapkan dirinya ke arah rumah tersebut dengan berzikir LA ILAHA ILLALLAH yang tak berhenti keluar dari mulutnya, setelah itu Abu Ibrahim Woyla pergi meninggalkan rumah itu. TIdak ada yang tahu makna yang terkandung di balik semua itu, apakah agar penghuni rumah itu terhindar dari bahaya yang akan menimpa mereka atau mendoakan penghuni rumah itu agar dirahmati Allah ? Wallahu A'lam.

Menurut Tgk Nasruddin , dilihat dari kehidupannya, Abu Ibrahim Woyla sepertinya tidak lagi membutuhkan hal-hal yang bersifat duniawi, ia mencontohkan, kalau misalnya Abu Ibrahim Woyla memiliki uang, uang tersebut bisa habis dalam sekejap mata dibagikan kepada orang yang membutuhkan dan biasanya Abu Ibrahim Woyla membagikan uang itu kepada anak-anak dalam jumlah yang tidak diperhitungkan (sama seperti amalan Rasulullah). Begitulah kehidupan Abu Ibrahim Woyla dalam kehidupan sehari-hari.

Keajaiban lain yang membuat masyarakat tak habis pikir dan bertanya-tanya adalah soal kecepatan beliau melakukan perjalanan kaki yang ternyata lebih cepat dari kendaraan bermesin. Memang kebiasaan Abu Ibrahim Woyla kalau pergi kemana-mana selalu berjalan kaki tanpa menggunakan sendal. Bagi orang yang belum mengenalnya bisa beranggapan bahwa Abu Ibrahim Woyla sosok yang tidak normal. Karena disamping penampilannya yang tidak rapi, mulutnya terus komat kamit mengucapkan zikir sambil jalan. Tgk Muhammad Kurdi Syam menceritakan suatu ketika Abu Ibrahim Woyla sedang jalan kaki di Teunom menuju Meulaboh (perjalanan yang memakan waktu 1 atau 2 jam dengan kendaraan bermotor), yang anehnya Abu Ibrahim Woyla ternyata duluan sampai di Meulaboh, padahal yang punya mobil tadi tahu bahwa tidak ada kendaraan lain yang mendahului mobilnya, kejadian ini bukan sekali dua kali terjadi, malah bagi masyarakat di pantai barat yang sudah mengganggap itulah kelebihan sosok ulama keramat Abu Ibrahim Woyla yang luar biasa tidak sanggup dinalar oleh pikiran orang biasa.

karena tak heran kalau Abu Ibrahim Woyla berada seperti di pasar, misalnya semua pedagang di pasar itu berharap agar Abu Ibrahim Woyla dapat singgah di toko mereka, karena mereka ingin mendapatkan berkah Allah melalui perantaran Abu Ibrahim Woyla. Namun tidak segampang itu karena Abu Ibrahim Woyla punya pilihan sendiri untuk mampir di suatu tempat. Seperti yang diceritakan Tgk Muhammad Kurdi Syam, suatu waktu Abu Ibrahim Woyla sedang berada di Lamno Aceh Jaya lalu bertemu dengan seseorang yang bernama Samsul Bahri yang sedang bekerja di Abah Awe, saat itu kebetulan Abu Ibrahim Woyla membawa dua potong lemang. Ketika mampir di situ Abu Ibrahim Woyla meminta sedikit air, setelah air itu diberikan Samsul lalu Abu Ibrahim Woyla memberikan dua potong lemang tersebut kepada Samsul tapi Samsul menolaknya karena menurut Samsul bahwa lemang tersebut adalah sedekah orang yang diberikan kepada Abu Ibrahim Woyla. karena tidak mau diterima Samsul, lemang itu dibuang Abu Ibrahim Woyla yang tak jauh dari tempat duduknya, spontan saja Samsul tercengang dengan tindakan Abu yang membuang lemang begitu saja, karena merasa bersalah lalu Samsul ingin mengambil lemang yang sudah dibuang tersebut, namun sayang, ketika mau diambil lemang itu hilang secara tiba-tiba.


Dalam kejadian lain, Tgk Nasruddin menceritakan suatu ketika (sebelum Tgk Nasruddin menjadi menantu Abu Ibrahim Woyla), tiba-tiba shubuh pagi Abu Ibrahim Woyla datang ke almamaternya ke Pesantren Syeikh Mahmud, kaki Abu Ibrahim Woyla kelihatan sedikit pincang sebelah kalau beliau berjalan. Kedatangan Abu Ibrahim Woyla disambut Tgk Nasruddin dan teman-teman sepengajian lainnya. Lalu Abu meminta sedikit nasi untuk sarapan pagi, "nasinya ada, tapi tidak ada lauk pauk apa-apa Abu" kata Tgk Nasruddin, "Nggak apa-apa, saya makan pakai telur saja, coba lihat dulu di dapur mungkin masih ada satu telur tersisi" jawab Abu Ibrahim Woyla, lalu Tgk Nasruddin menuju ke dapur, ternyata di tempat yang biasa ia simpan telur terdapat satu butir telur, padahal seingatnya tidak ada sisa telur lagi karena sudah habis dimakan.

Lantas sambil menyuguhkan Nasi kepada Abu Ibrahim Woyla, Tgk Nasruddin bertanya, "Kenapa dengan kaki Abu ?" Abu menjawab "saya baru pulang dari bukit Qaf (Mekkah), disana banyak sekali tokonya tapi tidak ada penjualnya. Namun kalau kita ingin membeli sesuatu kita harus membayar di mesin, kalau tidak kita bayar kita akan ditangkap polisi", Abu meneruskan "setelah saya belanja di toko-toko itu lalu saya naik kereta api dan sangat cepat larinya, karena saya takut duduk dalam kereta api itu , maka saya lompat dan terjatuh hingga membuat kaki saya sedikit terkilir, makanya saya agak pincang, tapi sebentar lagi juga sembuh"

Kejadian serupa juga dialami oleh keluarga dekat Abu Ibrahim Woyla sendiri, suatu hari Abu mengunjungi salah seorang saudaranya untuk meminta sedikit nasi dengan lauk sambel udang belimbing, lalu tuan rumah itu mengatakan pada isterinya untuk menyiapkan nasi dengan sambel udang belimbing untuk Abu Ibrahim Woyla, tapi isterinya memberi tahu bahwa pohon belimbingnya tidak lagi berbuah, "baru kemarin sore saya lihat pohon belimbingnya lagi tidak ada buahnya" kata sang isteri pada suuaminya. Tapi suaminya terus mendesak isterinya "coba kamu lihat dulu, kadang ada barang dua tiga buah sudah cukup untuk makan Abu" katanya.lalu isterinya pergi ke pohon belakang rumah, ternyata belimbing itu memang didapatkan tak lebih dari tiga buah di pohon yang kemarin sore dilihatnya.

Demikian pula ketika hendak melangsungkan pernikahan anak pertama Abu Ibrahim Woyla, yaitu Salmiah, msyarakat di kampung melihat sepertinya Abu Ibrahim Woyla tidak pedulu terhadap acara pernikahan anaknya. padahal acara pernikahan itu akan berlangsung beberapa hari lagi, tapi Abu Ibrahim Woyla tidak menyiapkan apa-apa untuk menghadapi acara pernikahan anaknya itu, bahkan uang pun tidak beliau kasih pada keluarga untuk kebutuhan acara tersebut. Namun ajaibnya pada hari "H" (hari pernikahan berlangsung) ternyata acara pernikahan anaknya berlangsung lebih besar dari pesta-pesta pernikahan orang lain yang jauh-jauh hari telah mempersiapkan segala sesuatunya.

Begitulah sebagian dari perjalanan riwayat hidup seorang ulama dan aulia Abu Ibrahim Woyla yang sulit dicari penggantinya di Aceh sekarang ini. Beliau berpulang ke Rahmatullah pada hari sabtu pukul 16.00 WIB tanggal 18 Juli 2009 di rumah anaknya di Pasi Aceh Kecamatan Woyla Induk, Kabupaten Aceh Barat dalam usia 90 tahun. Peneliti LKAS Banda Aceh pernah berziarah ke makan beliau pada bulan April 2010, melihat makan yang dijaga oleh anak tertuanya, banyak sekali diziarahi oleh masyarakat. Namun pihak keluarga sangat hati-hati dan berpesan pada penziarah agar makan Abu Ibrahim Woyla tidak dijadikan tempat pemujaan (yang membawaki kepada syirik).

Diambil dari : Ensiklopedi Ulama Besar Aceh 
Diposkan oleh Habib aL-Fata di 08.06




Abu Krueng Kalee
Posted by bakhtiaribrahim
Abu Krueng Kalee nyaris membuat Aceh menjadi sebuah Negara yang berdiri sendiri.Namun usulan itu branch diterima Daud Beureueh yang tertipu janji palsu Sukarno.
Sapaan akrab Abu Krueng Kalee Jika bertandang s Gampong Siem, Aceh Besar, mungkin branch asing lagi bagi masyarakat di sana.LLC H Muhammad Hasan Krueng Kalee itulah imitation aslinya yang Kini telah bersemat MEGAH ie sebuah shack pesantren: Darul Ihsan LLC Hasan Krueng Kalee. Pesantren itu juga dikenal dengan sebutan "Dayah Manyang." 
Abu Krueng Kalee
Abu Krueng Kalee
Abu Krueng Kalee merupakan Salah satu Ulama kharismatik Aceh. Ia lahir pada 13 Rajab 1304 H/18 April 1886 M ie Gampong Langgoe Meunasah Keutumbu Mukim Sangeue Kabupaten Pidie.Abu, begitu ia disapa selain piawai Dalam mengajarkan ilmu Agama Pendidikan juga menjadi sosok Ulama yang begitu peduli dengan keadaan politik sosial Aceh pada masa masa kemerdekaan Indonesia tahun 1945.
Melihat sepak terjang Abu sejarah hidupnya memang sangat mengagumkan khususnya bagi generasi Aceh yang ingin tahu banyak tentang kisah hidup Ulama Ulama Aceh yang of Berjaya pada masanya.
Abu Krueng Kalee menjadi Ulama Bukan Karena diagungkan oleh masyarakat Aceh pada waktu itu, melainkan pengorbanannya pada Aceh yang begitu Besar, sehingga ia diberi gelar "Ma'rifaullah" atau "A'rif billah". Gelar itu ia Terima pada sebuah forum tingkat Tinggi Ulama's Aceh, May 5, 2007, ie Masjid Raya Baiturrahman.
Pada pertemuan itu para Ulama Aceh telah sepakat, selain Abu Krueng Kalee, ada Tiga Ulama lainnya yang telah sampai pada tingkat Ma'rifatullah. Dua ie antaranya Ulama terkemuka masa silam yakni Syeikh Abdurrauf Singkily Syeikh Hamzah all Fansuri LLC H Muhammad Waly Al-Khalidy atau lebih dikenal dengan LLC H Muda Waly pendiri Salah satu pesantren terkemuka ie Labuhan Haji, Aceh Selatan. 
Pandangan Politik Abu
Berbicara masalah politik (siyasah) Bukan Barang Langka bagi Abu terlebih setelah Indonesia Merdeka. Abu piawai Dalam mengambil berbagai keputusan politik ie Aceh, Karena didasari pada penguasaannya terhadap pelbagai ilmu sejarah, Baik sejarah Islam (tarikh all Islamy) maupun Dunia.
Dari itu, Abu mampu mengkaji elements elements sosial politik Dalam menghadapi berbagai persoalan then peristiwa yang muncul saat itu.
Dalam biografi singkat "Teungku Haji Muhammad Hasan Krueng Kalee (1886-1973): Ulama Besar Guru Umat" yang diterbitkan Yayasan Darul Ihsan LLC Hasan Krueng Kalee disebutkan pada hakikatnya seseorang yang ingin mendalami kandungan Alquran dengan Baik benar mutlak Haruz mengetahui al-Seera Nabawiyah sebagai upaya mengambil suatu hukum i'tibar Serta memahami dengan benar ilmu fiqh al-Seera.
Hal itulah yang dipraktikkan Abu Dalam menghadapi berbagai peristiwa politik yang terjadi ie Aceh Nusantara semasa hidupnya.
Perannya sebagai seorang Ulama salafi sufi terkemuka, tidak membuatnya jauh Dari berbagai persoalan persoalan umat. Kiprahnya selalu hadir mengiringi setiap peristiwa yang muncul ie sekelilingnya.
Salah satu hal yang masih membekas pada Rakyat Aceh adalah lahirnya "Makloemat Oelama Seloeroeh Aceh" pada October 15, 1945. Maklumat itu dicetak Dalam bentuk selebaran dibagikan s seluruh Aceh Wilayah Sumatera.
Maklumat itu dikeluarkan ie Kutaradja (Banda Aceh). Diprakarsai oleh empat tokoh Ulama yang mewakili seluruh Ulama Aceh, yakni LLC HM Hasan Krueng Kalee, LLC M Daud Beureueh, LLC H Dja'far Siddik Lamjabat LLC Ahmad Hasballah Indrapuri. Maklumat itu merupakan wujud dukungan Ulama Aceh terhadap kemerdekaan Republik Indonesia yang telah diproklamirkan Presiden Sukarno.
Inti muatannya maklumat berisi keyakinan para Ulama yang bernilai fatwa: Perjuangan mempertahakan kemerdekaan Indonesia adalah sama dengan Perjuangan suci yang disebut perang sabil (jihad fi sabilillah) meneruskan Perjuangan Aceh terdahulu seperti Perjuangan LLC Chik di Tiro pahlawan kebangsaan lainnya.
Legitimasi maklumat mewakili Rakyat Aceh ini juga mendapat dukungan penuh dengan dicantumkannya atau diketahui oleh Teuku Nyak Arif selaku Residential Aceh disetujui oleh Tuwanku Mahmud (keturunan Sultan of Aceh) selaku Komite Nasional Indonesia Daerah Aceh (KNIDA).
Branch lama setelah keluarnya Maklumat Bersama itu, Abu mengeluarkan seruan / maklumat tersendiri. Seruan yang sangat penting Atas Nama pribadinya pada 25 October 1945. Isinya branch jauh Beda dengan maklumat bersama.
Seruan yang ditulis Dalam bahasa Arab Jawi itu dicetak oleh Markas Daerah PRI (Pemuda Republik Indonesia). Disertai surat pengantar yang ditandatangani Ketua Umum PRI, Ali Hasjmy, 8 November 1945 dengan Nomor 116/1945. Maklumat itu kemudian dikirim s seluruh pimpinan Ulama Aceh.
Adanya maklumat itu berdampak positif bagi pemerintahan RI. Berbagai dukungan fisik then materil Rakyat Aceh untuk membiayai Perjuangan Negara Kesatuan Republic Indonesia branch terbendung, sehingga hydrolyzate kunjungan pertama Presiden Sukarno s Aceh, June 1948, dengan lantang Sukarno menyatakan bahwa Aceh then segenap rakyatnya adalah modal pertama bagi kemerdekaan RI. 
Aceh Nyaris Berdiri Sendiri
Di Blang Padang, Banda Aceh, ada sebuah bangunan tua bekas pusat pemerintahan Belanda.Kini telah berubah wujud. Dijadikan SMA Negeri 1 Banda Aceh.
Di 'gedung Zethan, sebutan Rakyat Aceh waktu itu terhadap cantor Belanda (der Sman 1 Banda Aceh Kini), menjadi saksi bisu Fakta sejarah tanggal 20 Maret 1949. Di gedung itulah pertemuan penting para tokoh tokoh ie Aceh berlangsung, Salah satunya Abu Krueng Kalee. 
Complex Makam Abu Krueng Kalee
Makam Abu Krueng Kalee ie com Dayah Darul Ihsan
Pertemuan itu membahas isi sebuah surat tertanggal 17 Maret 1949 yang dikirim Wali Negara Sumatera Timur, DR Teungku Mansur s Aceh. Saat itu Aceh merupakan Provin yang dipimpin seorang Gubernur military Sipil yang membawahi Wilayah Aceh, Langkat, then Tanah Karo.Surat itu berisi undangan kepada LLC M Daud Beureueh selaku Gubernur military Aceh untuk menghadiri rapat yang diberi imitation "Muktamar Sumatera" untuk membahas pembentukan "Negara Republik Federasi Sumatera."
Padahal, Muktamar Sumatera itu merupakan gagasan terselubung Dari politiknya Gubernur Hindia Belanda Van Mook untuk memecah belah Wilayah Indonesia yang sudah memproklamirkan kemederkaannya bisa bubar. Mook melakukan itu Karena seluruh Wilayah di Indonesia saat itu telah berhasil diduduki Belanda pascaagresi military ke II tahun 1948.
Pemerintah Darurat Republic Indonesia (PDRI) ie bawah kepemimpinan Syahruddin Prawiranegara yang dibentuk Atas perintah Sukarno, akhirnya Haruz pindah-pindah, yakni s Yogyakarta, Bukit Tinggi, then Aceh, Karena kala itu ibukota RI ie Jakarta telah diduduki Belanda Serta sejumlah tokoh National then termasuk Sukarno telah berhasil ditawan Belanda.
Hanya Aceh, satu-satunya yang sepanjang perang revolusi fisik (1945-1949) tidak berhasil diduduki Belanda sehingga gagasan yang ditawarkan oleh Van Mook untuk bergabung Dalam Negara Republik Federasi Sumatera (NRFS) Akan membuat Indonesia pada akhirnya branch lagi berwujud.
Kepentingan Belanda untuk Aceh agar bergabung bersama NRFS sangat Besar. Aceh dianggap Belanda telah menjadi daerah modal RI branch lagi memberi dukungan Perjuangan untuk Rakyat Indonesia ke Wilayah lain.
Suasana gedung Zethan pun hari itu berlangsung Panas. Terjadi perdebatan sejak jam 10 pagi sampai jelang 11 Malam jam. Hasilnya berupa Tiga pilihan: sebagian menerima ajakan Van Mook bergabung bersama NRFS; sebagian ingin memproklamasikan Aceh sebagai Negara sendiri; sebagian tetap setia mempertahankan Negara Republik Indonesia.
Dari Tiga pilihan itu, hanya Abu yang mengusulkan Aceh untuk berdiri sendiri. Berbagai pertimbangan Abu uraikan. Menurutnya Roda pemerintahan Republik Indonesia sudah lumpuh.Secara defacto, Wilayah RI sudah Kembali diduduki Belanda, kecuali Aceh.
Selain itu, Aceh telah memiliki sejarah kemampuan secara military untuk berdiri sendiri lewat Salah satu commando LLC Daud Beureueh yang menjabat Gubernur military Sipil untuk Aceh, Langkat, then Tanah Karo, sehingga berbagai Alat persenjataan berat peninggalan Jepang yang berhasil dikuasai pejuang Aceh bisa menjadi Salah satu modal kemampuan Abu para Ulama lain untuk menggalang kekuatan Rakyat Dalam mendukung gagasan tersebut.
Namun hydrolyzate berbagai gagasan uraian disampaikan Abu, LLC Daud Beureueh juga meminta pendapat peserta rapat Atas tawaran Van Mook, tetapi tidak ada satupun Dari mereka memberikan tanggapan.
Menurut LLC Ishak Ibrahim, Salah satu anggota TNI yang pernah bertugas ie Makassar pada masa DI / TII menjabat sebagai komandan Batalion DI / TII Wilayah Darussalam, Malam itu LLC Daud Beureueh akhirnya menanyakan tanggapan s Abu tentang tawaran Van Mook.
Abu dengan tegas menjawab, "Kalau mau senang, lepaskan Aceh Dari RI. Ambil yang Baik meskipun itu keluar Dari mulut rimueng (harimau). "
LLC Daud Beureueh menentang keras jawaban Abu. Padahal sosok Abu di mata Daud Beureueh adalah seorang guree (guru). Daud Beureueh pun Kembali mempertegas: kesetiaan Rakyat Aceh terhadap RI Bukan dibuat buat melainkan kesetian yang tulus ikhlas dengan Hati nurani yang penuh perhitungan then perkiraan.
Dalam pidatonya, LLC Daud Beureueh mengatakan "... sebab itu, kita tidak bermaksud untuk membentuk suatu Aceh Raya, Karena kita Di Sini bersemangat Republiken. Untuk itu, undangan Dari Wali Negara Sumatera Timur itu kita Pandang sebagai tidak ada Saja, Dari Karena itu tidak kita balas. "
Penolakan LLC Daud Beureueh juga didasari Atas keyakinannya bahwa Sukarno Akan menepati janji janji yang telah disampaikan dengan linangan air mata kepadanya Dalam kunjungan s Aceh tahun 1948. Pada LLC Daud Beureueh, Sukarno berjanji Akan memberikan izin bagi Aceh untuk mengurus daerahnya sendiri menjalankan syariat Islam.
Akhirnya, usulan Abu branch mendapat dukungan penuh Dari peserta rapat. Ia kalah oleh pandangan mayoritas yang ingin tetap bergabung dengan RI. Hasil akhir pun memutuskan untuk menolak ajakan DR Teungku Mansur gejolak membentuk NRFS berakhir dengan sendirinya.
Akan tetapi semangat Abu Krueng Kalee belum surut. Ia didampingi muridnya LLC Idrid Lamnyong di kediamannya di Banda Aceh, Kembali mengajak LLC Daud Beureueh mendirikan Pemerintahan Aceh. Ajakan itu diungkapkannya sehari menjelang penyerahaan kekuasaan Belanda kepada Indonesia menjadi Republik Indonesia Serikat (RIS) ie The Hague, 27 December 1949.
Namun jawaban Daud Beureueh juga branch berubah. Perdebatan sengit pun Kembali terjadi hingga akhirnya Abu mengatakan, "mulai jinoe foot ka peugah sapeu le bowl lon kah hana ka tupeu ... (mulai sekarang jangan katakan apapun lagi pada Saya, kamu tidak tahu-kyenom yang Saya tahu) .... " 
Logic Agama Ilmu Hakikah
Menelaah secara logic, kyenom yang disampaikan LLC Daud Beureueh lewat pandangannya bersama tokoh tokoh lain untuk mendukung Aceh tetap bergabung dengan Republik Indonesia memang tidak dapat disalahkan.
Pandangan tersebut terlihat Dari motivasi prinsip mashalah yang lebih Besar, Karena demi memperjuangkan kepentingan bangsa Negara Indonesia yang pada saat itu Mati Suri. Apalagi janji janji Sukarno masih begitu terpatri Dalam setiap ingatan Rakyat Aceh, sehingga Sulit dipercaya Jika janji itu Akan dikhianati dikemudian hari. Bake seorang negarawan sejati tentu Akan mengambil kesimpulan yang sama dengan Daud Beureueh.
Abu sendiri Dalam menilai persoalan ini tetap merujuk pada logic Agama. Namun di sisi lain Abu juga melihat dengan ilmu hakikah atau disebut ilmu firasat (laduni). Salah satu ilmu yang diberikan Allah SWT kepada para walinya yang telah mencapai maqam ma'rifah sehingga Sulit bagi awam untuk mengerti pada awalnya.
Jelas sekali padangan Abu sangat bertolak belakang Jika merujuk kyenom yang terjadi pada Maklumat Ulama sebelumnya. Namun bagi orang yang paham sikap polarization pikir Abu Dalam mengambil suatu keputusan tentu Akan menjadi jelas mudah mengerti.
Melihat kondisi Awal kemerdekaan menjadi alasan bahwa mengharamkan umat Islam keluar Dari ketaatan pemimpin Jika sudah terpilih atau diakui secara mayoritas walaupun pemimpin itu fasiq atau Jahath, selama ia tidak mengharamkan umat untuk mengerjakan salat farzu lainnya.Maka menurut pemahaman Sunni pemimpin itu Haruz tetap ditaati walau boleh dibenci.
Lain halnya saat Indonesia pascaagresi military, ie mana Pemerintah RI sudah lumpuh branch bisa lagi berjalan sebagaimana mestinya. Meskipun demikian situasi ie Bukit Tinggi branch lagi aman. Bahkan Daud Beureueh meminta Presiden PDRI waktu itu Syafruddin Prawinegara hijrah ke Aceh, sehingga pemerintahan RI masih dapat dipertahankan.
Oleh Karena itu, secara hukum Agama, Aceh sudah memiliki momentum yang tepat boleh untuk mengumumkan negaranya sendiri demi menghindari kevakuman pemimpin then pemerintahan ie mana kehilangan pemimpin menurut ajaran Agama keyakinan Abu sangat dilarang Dalam Agama, seperti Dalam Salah satu riwayat Ulama fiqih mengatakan : "enam puluh tahun di bawah pemerintahan imam yang Jahath lebih Baik Dari semalam tanpa pemimpin."
Jadi bisa dikatakan branch ada kontradiksi Antara kedua pandangan Abu Dalam hall ini. Sebab pandangan tersebut berada Dalam situasi kondisi Negara yang sangat berbeda. Berbagai sikap politik Abu untuk mendukung Lepas Dari RI juga berpijak Atas dasar Agama dalil dalil seperti ayat Alquran Hadis, Ijma Serta kajian terhadap ilmu Fiqh Siyasah.
Kini Abu telah tiada manusia yang hanya bisa berencana namun takdir Allah untuk menentukan kyenom yang berlaku. Wallahua'lam.









Syeh Abdurrauf As-singkili
M asyarakat Aceh sebagai masyarakat yang agamis, khususnya Islam sangat dekat dengan ulama. Disadari bahwa ulama dalam masyarakat Aceh menjadi panutan bagi segenap warga, sebagai sosok yang dihormati dan dikagumi. Kekaguman masyarakat terhadap ulama terutama karena ulama memiliki pengetahuan agama yang mendalam serta ulama juga sebagai tokoh yang memiliki kharismatik dalam kehidupan masyarakat.
Kaum ulama atau alim ulama dalam masyarakat Aceh sering disebut dengan teungku. Gelar teungku yang dijuluki kepada seseorang sebenamya biasa-biasa saja. Sebutan itu sering digelarkan kepada seseorang, yang telah dan sedang menempuh pendidikan di dayah (pesantren). Sebutan itu tidak memandang berapa lama seseorang belajar di suatu lembaga pendidikan dayah.
Namun kalau ditinjau secara ilmiah, ulama yang dimaksud adalah mereka selain memiliki pengetahuan agama yang dalam dan luas juga memiliki pengaruh yang besar dalam masyarakat. Seorang ulama harus beriman, bertaqwa, beramal saleh dan berakhlak mulia, serta selalu mengajak umat manusia untuk melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi semua larangan-Nya. Umumnya mereka adalah pimpinan-pimpinan dayah/pesantren di Aceh, walaupun ada pula yang tidak memimpin dayah. Keulamaan seseorang pimpinan dayah itu sering juga digelar dengan sebutan, Abon, Abu, dan Teungku Chiek (Rusdi Sufi, 1997:7).
Kepopuleran seorang ulama bukan saja karena kesalehannya dan berilmu tinggi, akan tetapi karena sanggup memimpin masyarakat. Sosok ulama adalah simbol pemersatu umat. Sebagai pemersatu umat, pada diri ulama itu terpancar sifat kharismatik. Kharisma atau kewibawaan yang dimiliki oleh seseorang ulama menjadi satu kekuatan yang mampu menggerakkan dan memotivasi rakyat dalam melakukan berbagai aktivitas positif sehari-hari.
Kaitan dengan pemyataan di atas Rusdi Sufi (1997:8) menguraikan bahwa masyarakat pedesaan atau orang-orang yang tinggal di pedesaan dalam masyarakat Aceh disebut dengan ureung gampong, yaitu orang yang mendiami di suatu wilayah yang jauh dengan perkotaan. Kehidupannya cukup bersahaja dan belum terpengaruh dengan berbagai perubahan. Kehidupan mereka terbingkai oleh lingkungan yang penuh dengan nilai-nilai budaya, nilai-nilai sosial dan adat istiadat, serta nilai-nilai agama.
Dalam bertindak dan bertingkah laku sehari-hari, mereka selalu memperlihatkan corak dan nilai-nilai yang bersumber pada ajaran Islam dalam hampir segenap aspek kehidupan. Penerapan berbagai tingkah laku yang bercorak keislaman ini disebabkan oleh adanya pranata sosial yang umumnya berlaku pada masyarakat Aceh melalui lembaga pendidikan dayah, sehingga menghasilkan ulama-ulama militan sebagai pemimpin pranata sosial dalam masyarakat.
Sebagai orang yang memiliki pengetahuan keagamaan yang luas, maka ulama memiliki andil besar dalam mentransferkan ajaran agama dan nilai-nilai sosial kepada masyarakat. Dalam melakukan kegiatan tersebut, ulama menempuh berbagai cara dan media, antara lain melalui lembaga pendidikan dayah dan berbagai media dakwah lainnya. Hikayat merupakan salah satu media dalam memvisualisasikan ajaran-ajaran atau nilai-nilai agama kepada masyarakat. Hikayat yang penuh dengan nilai seni sastra dijadikan sebagai alat yang sangat ampuh oleh ulama dalam mengajarkan syariat Islam. Hikayat ini mengandung petuah-petuah, nasehat-nasehat, dan kisah-kisah kehidupan para nabi/auliya yang dapat menjadi contoh dan tauladan dalam kehidupan umat manusia. Hikayat ini juga mengandung unsur pendidikan dan moral keagamaan.
Pemilihan hikayat sebagai media oleh para ulama dalam mentransformasikan nilai-nilai agama kepada masyarakat sangatlah tepat. Hal ini disebabkan oleh tingkat pendidikan masyarakat yang pada umumnya masih belum mampu menulis dan membaca tulisan Arab dan Laten. Hikayat ini pada umumnya ditulis oleh para ulama dan dibacakannya dihadapan masyarakat baik pada ruang tertutup maupun ruang terbuka. Masyarakat dengan tekun mendengarkan untaian kalimat per kalimat dengan gaya bahasa yang khas, sehingga mampu membangkitkan emosional masyarakat sebagai pendengamya.
Pembacaan hikayat tidak terlalu terikat dengan waktu, tempat dan teks. Para ulama biasanya membacakan hikayat tanpa melihat teks dan dapat dialunkan di mana saja dan kapan saja. Memang tidak semua ulama mampu mengarang dan menulis hikayat. Akan tetapi pada umumnya mereka mampu menyadur dan membacakannya kepada masyarakat terutama di lingkungan desa di mana para ulama itu berdomisili (Rusdi Sufi, 1997:9).
Ulama-ulama yang mahir dalam mengarang hikayat antara lain Teungku Chik Kuta Karang, Teungku Chik Pante Kulu dan Teungku Chik Di Tiro. Alim ulama ini telah berandil besar dalam mem-visualisasikan hikayat sebagai media komunikasi keagamaan dengan masyarakat. Mereka telah mampu menggerakkan semangat masyarakat untuk melawan penjajahan Belanda dalam periode perang Belanda di Aceh lewat media hikayat.
Pada masa penjajahan Belanda, hikayat menjadi media untuk membangkitkan semangat juang. Banyak para pemuda setelah mendengar pembacaan hikayat dengan gagah berani mengambil pedang atau rencong pergi ke medan perang untuk melawan kafir Belanda tanpa ragu dan gundah sedikitpun. Para ulama itu membacakan hikayat untuk mendukung perjuangan tersebut di setiap mukim atau kampung.
Hikayat sebagai media hubungan antara alim ulama dengan masyarakat juga dibacakan di menasah-menasah pada waktu malam hari, ketika pemuda hendak tidur. Hikayat-hikayat yang dibacakan di tempat ini pada umumnya mengandung petuah-petuah ataupun pedoman-pedoman dalam mengarungi kehidupan dunia menuju ke alam akhirat yang lebih baik. Petuah-petuah itu didengar dengan baik oleh para pemuda.
Hikayat-hikayat yang dibacakan di menasah itu juga mengandung unsur-unsur hiburan (pelipur lara) bagi pemuda, yang berisi nyanyian-nyanyian tidur. Peranan hikayat ini menjadi hiburan para pemuda di zaman dahulu. Akan tetapi pada masa sekarang peranan tersebut telah mulai tergeser oleh berbagai media informasi dan hiburan lainnya yang kini telah-menembus pelosok desa sekalipun. Para pemuda sekarang.lebih banyak menghabiskan waktu dengan media hiburan lainnya seperti internet, televisi, tape recorde dan radio.
Dewasa ini pembacaan hikayat hampir tidak pernah terdengar lagi di desa-desa, bahkan di desa terpencil sekalipun. Hal ini disebabkar oleh banyaknya media informasi dan alat-alat hiburan lainnya. Selain itu tingkat kesibukan masyarakat dengan berbagai aktivitas dar pekerjaan juga turut memberikan pengaruh untuk tergesernya peranan dan fungsi hikayat dalam kehidupan masyarakat.













Tengku Peulumat
Tengku Peulumat terletak di Desa Betong Peulumat Kecamatan Labuhanhaji Timur. Tengku Peulumat nama aslinya Tengku Syekh Abdul Karim, beliau lahir pada tanggal 8 Agustus 1873 di Kota Baru Sungai Tarap Batu Sangkar Minangkabau Sumatera Barat, sejak kecil sampai dewasa Tengku Peulumat berada di kampungnya, setelah dewasa merantau ke Aceh dan menetap di Peulumat, beliau kawin dan berumah tangga di Peulumat. Di Peulumat beliau belajar dan memperdalam ilmu agama di Pondok Pesantren Darussalam Labuhanhaji yang kemudian pesantren ini dipimpin oleh keponakan beliau yang bernama Syech Tengku Muda Wali Al Chalidy. Ia belajar syariat, hakikat dan makrifat. Karena Tengku Peulumat sangat menggandrungi ilmu Tasauf, ia hidup dengan ajaran sufi yaitu kaum yang hidup warak dan khana’ah yang tidak cinta dunia. Karena kesucian dan kebeningan jiwa Tgk. Peulumat menjadi seorang wali atau Aulia Allah. Banyak hal-hal yang diluar logika terjadi pada diri Tengku Peulumat seperti: ia bisa menghilang dan berjalan di atas air dan shalat Jumat ke Masjidil Haram dalam waktu singkat dan bisa kembali ke Peulumat. Sebagaimana cerita yang sudah populer di masyarakat Aceh Selatan bahwa pada suatu hari Tengku Peulumat pergi ke pajak ikan membeli ikan. Dalam perjalan pulang tiba-tiba ia ditegur seorang anak yatim, karena mendapat teguran itu, lantas ikan itu diberikannya kepada anak tersebut. Hal itu sempat dilihat oleh isterinya sambil marah kepada Tengku Peulumat. Tapi dengan tenang Tgk. Peulumat mengatakan bahwa ganti ikan itu sudah ada tergantung di dekat tungku dapur yaitu seekor ikan laut sebesar betis yang masih segar dan masih hidup. Tengku Peulumat meninggal pada tanggal 8 Agustus 1943. Saat jenazahnya dimasukkan ke dalam kubur dan ketika ikat kain kapan bagian lehernya dibuka, kerenda Tgk. Syech Abdul Karim ternyata kosong – jasad Tengku Peulumat raib. Dikabarkan jenajah orang suci – Aulia Allah yang juga oleh masyarakat dijuluki dengan Aulia Allah diangkat dan diusung para Malaikat ke alam Malakut.








Abi Thantawi  Jauhar
(1955 - 2012 M)
Pimpinan Dayah Baitusshabri Lam Ateuk Aceh Besar
Riwayat hidup
Berdasarkan keterangan pada Kartu Tanda Penduduk beliau, Abi Thantawi tercatat lahir di Sawang Aceh Selatan pada tanggal 1 Juli 1955. Pada masa kanak-kanaknya, sebagaimana biasanya anak Aceh, beliau belajar al-Qur’an dan dasar-dasar akidah pada ulama yang ada di kampung beliau, disamping mengikuti pendidikan dasar umum di rumah sekolah. Menginjak remaja, beliau memasuki pesantren/dayah Darussalam Labuhanhaji yang letaknya berselang hanya beberapa kecamatan dari kecamatan kelahiran orangtua dan keluarganya. Tidak lama di sini (tidak sampai satu tahun), beliau masuk dayah Darul Mu’arrif Lam Ateuk Aceh Besar dibawah pimpinan Abu Ahmad Perti seorang ulama terkenal di Aceh. Di dayah ini beliau belajar ilmu agama dalam berbagai disiplin ilmu, seperti bahasa Arab, balagah, ushul fiqh, fiqih, tauhid, tasauf dan sebagainya. Setelah lama beliau di sini, beliau dipercaya menjadi guru sekaligus menjadi wakil pimpinan dayah dengan mengajar berbagai disiplin ilmu agama seperti kitab Ghayatul Wushul dalam bidang ushul fiqh, al-Syarah al-Mahalli dalam bidang fiqih, Syarah al-Jauhar al-Maknun dalam bidang balaghah dan lain-lain.
Setelah guru beliau almarhum Abu Ahmad Perti berpulang kerahmatullah  pada tahun 2000 M, Abi Thantawi dipercaya sebagai pimpinan dayah Darul Mu’arrif menggantikan kedudukan gurunya. Namun jabatan ini hanya sekitar dua tahun lebih, karena beliau harus memimpin dayah beliau sendiri, Dayah Baitusshabri (dayah ini berjalan sebagaimana mestinya  sekitar tahun 2005 M), yang beliau kelola sampai akhir hayatnya, yang letaknya masih satu kecamatan dengan dayah Darul Mu’arrif .
Tentang Pesantren
Pesantren Baitussabri berdiri pada tanggal 25 Mei 2005 yang beralamat di Jalan Blang Bintang Lama Km. 8,5 Depan Unaya Desa Lambro Dayah Kecamatan Kuta Baro Kabupaten Aceh Besar, di dirikan oleh tokoh-tokoh masyarakat dan seluruh kepala desa kemukiman ateuk guna mendukung pelaksanaan syari’at islam dan mendidik generasi muda calon pemimpin masa depan juga untuk pemamfaatan kembali mesjid lama/mesjid tuha yang tidak di pakai lagi untuk shalat jum’at oleh masyarakat, berdiri di atas tanah seluas 3 hektare yang di sebagian adalah tanah wakaf masyarakat.
Abu Ahmad Perti (1938 - 1999 M)
Tgk H. Muhammad Zamzamy, yang lebih dikenal dengan nama Tgk Ahmad Perti atau Tgk Ahmad Mamplam Golek atau Abu Lam-Ateuk lahir di Kutabaro Aceh besar dari keluarga yang terkenal ta’at beragama. Setelah belajar agama di tanah kelahiran beliau, Tgk H. Muhammad Zamzamy melanjutkan pendidikan di sebuah dayah di Kecamatan Sawang Aceh Selatan di bawah bimbingan Tgk Ishaq (Tgk Jeunib). Tidak lama di sini, beliau melanjutkan pendidikannya di Dayah Darussalam Labuhan Haji yang masih satu kabupaten dengan dayah tempat belajar beliau sebelumnya. Dayah Darussalam pada` ketika itu masih di bawah pimpinan Ulama terkenal di Aceh, Abuya Syekh Muda Waly.
Setelah merasa kemampuan ilmu agama memadai, pada penghujung tahun enam puluhan, beliau pulang kekampung halaman dengan mendirikan sebuah dayah dengan nama Darul Mu’arrif. Nama dayah ini kemudian ditambah dengan embel-embel “Istiqamatuddin” dengan harapan dayah tersebut tetap istiqamah dan terhindar dari godaan politik pemerintahan Orde Baru pada` ketika itu. Darul Mua’rrif muncul sebagai sebuah dayah yang disegani di Aceh dan sekitarnya. Para pelajarnya disamping berasal dari Aceh, juga ada yang berasal dari luar Aceh, seperti Riau, Padang, Palembang, Bengkulu. Bahkan banyak juga yang berasal dari negara tetangga, Malaysia. Alumni-Alumni Dayah Darul Muarrif banyak yang muncul sebagai ulama yang berpengaruh di Aceh. Penulis yang dha’if ini sendiri merupakan alumni Dayah Darul Mu’arrif ini dan pernah berguru langsung dari beliau membaca kitab al-Mahalli, Ihya Ulumuddin, Ghayatul Wushul, Syarah al-Jauhar al-Maknun, Ibu ‘Aqil dan lain-lain. Semoga Allah membalas segala amalan beliau dengan rahmat dan syurga jannatunna’im.
Diantara ulama-ulama alumni Dayah Darul Mu’arrif yang penulis ketahui, antara lain :
1. Tgk Ramli, pimpinan dayah di Krueng Mane Aceh Utara
2. Tgk H.Martunis Zamzamy, pimpinan Dayah Darul Huda Sawang Aceh Selatan
3. Tgk Thaharuddin, Pimpinan Dayah Raudhah Kuala Batee Abdya (almarhum)
4. Tgk Din Tsany, pimpinan Dayah di Aceh Utara
5. Tgk H.Munir Jangkabuya, pimpinan dayah di Pidie Jaya (almarhum)
6. Tgk H.Thantawy Jauhari, pimpinan Dayah Darul Shabri Kutabaro Aceh Besar
7. Tgk H. Mahmuddin MBO, pimpinan Dayah Serambi Aceh, Aceh Barat
8. Tgk Arifin MBO, pimpinan dayah di Aceh Barat
9. Tgk Syarifuddin, pimpinan dayah di Bidok-Uliem, Pidie Jaya
10. Tgk Mahdi, pimpinan Dayah Darul Mu’arrif sekarang (menantu beliau sendiri)
11. Abu Don Lamno, pimpinan dayah di Alue Lhok-Aceh Timur
12.Tgk Manan, pimpinan Dayah di Alue Lhok-Aceh Timur (almarhum)
13.Tgk Husnon, pimpinan Dayah di Meulum Samalanga
14. dan lain-lain
Tgk Muhammad Zamzamy terkenal sebagai orator ulung dan tajam ulasannya. Dalam setiap orasinya, beliau muncul dengan bersemangat dan berapi-api. Sebagai penganut kuat Mazhab Syafi'i, beliau sangat anti terhadap paham tidak bermazhab yang dianut sebagian kecil rakyat Aceh ketika itu. Dalam politik, beliau bergabung dalam Partai politik PPP dan merupakan salah seorang juru kampanye PPP yang andal dan disegani.



Profil Abuya Prof DR Tgk H. Muhibbuddin  Waly
Abuya Muhibbuddin, demikian ia akrab disapa, adalah putra Syekh Muhammad Waly, guru Tarekat Naqsyabandiyah Waliyah di Tanah Rencong. Syekh Muhammad Waly adalah ulama besar yang berasal dari Minangkabau. Dari ayahandanya, yang di Ranah Minang lebih dikenal dengan julukan Syekh Mudo Waly, mengalir darah ulama besar. Paman Syekh Mudo Waly, misalnya, adalah Datuk Pelumat, seorang waliullah yang termasyhur di Minangkabau. Sebagaimana kedudukan pamannya, Syekh Mudo Waly juga mewarisi karisma dan karamahnya. Konon, ia pernah memindahkan anaknya dari Minangkabau ke Aceh dalam sekejap. Syekh Mudo Waly adalah sahabat Syekh Yasin Al-Fadany (asal Padang) saat mereka berguru kepada Sayid Ali Al-Maliky, kakek Sayid Muhammad bin Alawy bin Ali Al-Makky Al-Maliky Al-Hasany, di Mekah. Karena persahabatan itu pula, beberapa tahun lalu Al-Maliky mengijazahkan seluruh tarekat yang dimilikinya kepada Abuya.Diceritakan, ketika menunaikan ibadah haji, Abuya sowan kepada tokoh Suni yang baru saja wafat pertengahan Ramadan lalu. Ketika itu Sayid Maliky bertanya, siapakah gerangan tamunya tersebut. Abuya lalu menjelaskan, ia adalah putra Syekh Mudo Waly, murid Sayid Ali Al-Maliky. Mendengar itu, Sayid Maliky menangis haru dan memeluk Abuya, kemudian mengijazahkan semua ilmu tarekatnya. Hal yang sama sekali tak diduga sebelumnya oleh Abuya. Pertemuannya dengan Syekh Yasin Al-Fadany juga penuh dengan isak tangis mengharukan. Setelah memeluk Abuya erat-erat, sambil terus memegang tangannya, Syekh Yasin mengijazahkan semua hadis Rasulullah SAW yang dikuasainya. Untuk pertama kalinya, tempo doeloe di masa remaja, Abuya Muhibbuddin belajar Tarekat Naqsyabandiyah kepada ayahandanya. Setelah dianggap cukup, belakangan, Syekh Mudo Waly menyerahkan pengangkatan anaknya menjadi mursyid kepada gurunya, Syekh Abdul Ghani Al-Kampary (dari Kampar). Saat itu di pesisir laut Sumatra ada dua mursyid besar yang tinggal di Riau.Mereka termasyhur sebagaimin jumlatil awlia (termasuk wali-wali Allah), yaitu Syekh Abdulghani Al-Kampary, yang kebanyakan murid-muridnya terdiri dari para ulama; dan Syekh Abdul Wahhab Rokan (dari Rokan), yang murid-muridnya adalah orang-orang awam. Belakangan Abuya Muhibbuddin juga mendapat ijazah irsyad (sebagai guru mursyid) Tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dari ulama karismatik K.H. Shohibul Wafa’ Tajul ‘Arifin, alias Abah Anom, pengasuh Pondok Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya; dan Tarekat Naqsyabandiyah Haqqaniyah dari Syekh Muhammad Nadzim Al-Haqqany. Silaturahmi dan selalu belajar kepada para ulama besar memang kebiasaannya yang sudah mendarah daging, bahkan hingga kini. Selalu teringat wasiat ayahandanya, “Jika engkau bertemu dengan orang alim, janganlah pernah mendebat. Cukup dengarkan nasihatnya, bertanya seperlunya, minta doa dan ijazahnya, lalu cium tangannya.”
Syekh Muhibbuddin Waly mengambil gelar doktor di Fakultas Syariah Universitas Al-Azhar, Kairo, dengan disertasi tentang Pengantar Ilmu Hukum Islam. Lulus 1971, waktu kuliahnya terbilang singkat. Di Al-Azhar, teman satu angkatannya antara lain mantan Presiden RI K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. “Wah, Gus Dur itu sehari-hari kerjaannya cuma membaca bermacam-macam koran,” kenangnya sambil terkekeh. Kini, setelah kesibukannya sebagai anggota DPR RI berakhir 2004 lalu, ia lebih banyak mengisi waktunya dengan mengajar tarekat dan menulis. Ada beberapa buku tentang tasawuf dan pengantar hukum Islam yang sedang ditulisnya, sambil menyempurnakan buku ensiklopedi tarekat yang diberinya judul Capita Selecta Tarekat Shufiyah. Waktu senggangnya juga dimanfaatkan untuk “meramu” tiga kitab yang diharapkannya akan menjadi pegangan para murid dan umat Islam pada umumnya, yaitu Tafsir Waly (Tafsir Al-Quran), Fathul Waly (Komentar atas Kitab Jauharatut Tauhid), dan Nahjatun Nadiyah ila Martabatis Shufiyah (sebuah kitab tentang ilmu tasawuf). Dan ternyata ia pun mewarisi darah para pujangga Minang. Hal itu, misalnya, terbukti dari kemahirannya menulis syair. Belum lama ini ia mengijazahkan Syair Tawasul Tarekat yang digubahnya dalam dua bahasa, Arab dan Melayu, kepada murid-murid tarekatnya. Syair yang cukup panjang ini menceritakan proses perjalanan suluknya, diselingi doa tawasul kepada para pendiri beberapa tarekat besar dan guru-guru yang dimuliakannya.
Mengenai perkembangan tarekat dewasa ini, ia menyatakan, “Saat ini ada pergeseran nilai (bertambahnya fungsi tarekat – Red.) di kalangan pengikut tarekat. Jika di masa lampau tarekat diikuti oleh orang yang benar-benar hendak mencapai makrifatullah, kedekatan dengan Allah, sekarang ini tarekat malah sering jadi tempat pelarian bagi orang-orang yang menemukan kebuntuan dalam hidup.” Mengenai hubungan guru dan murid dalam tarekat, ia berpendapat, seorang mursyid adalah pengemudi biduk pengembaraan spiritual muridnya. Oleh karena itu, seorang mursyid seyogianya juga menjadi musahhil, yaitu orang yang membantu kemudahan sang murid dalam melewati beberapa maqamat atau terminal spiritualnya.
Berita yang tersebar melalui sms dan facebook menyebutkan bahwa Abuya Pro.DR. Muhibuddin Waly telah berpulang kehadirat Allah sekira pukul 21.30 WIB Rabu Malam (7/3) di RS Fakinah, Banda Aceh.
Serambinews.com melansir bahwa Abuya meninggal setelah beberapa hari dirwat di RS Fakinah. Saat ini, jenazah Almarhum dibawa pulang ke kediaman di Desa Lamreung, Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.
Berikut sekilas Biografi Abuya Muhibuddin Waly
Nama Penuh : Prof. Dr. H. Teungku Muhibbuddin Waly
Nama Pendek : Muhibbuddin
Asal : Tanjungan, Sumatera Barat
Nama Ayah : Teungku Syeikh H. Muhammad Waly Al-Khalidy Al-Syafi’i Darussalam, Labuhanhaji, Aceh Selatan
Gelaran Tradisi : Teungku dan Abuya
Gelaran Profesional : Doktor (Ph.D) Penghantar Ilmu Fiqh Islam
Tarikh Lahir : 17 Desember 1936, (Rabu)
Tempat Lahir : Simpang haru Padang Kota, Sumatera Barat
Agama : Islam (Sunni)
Status : Kahwin, mempunyai seorang isteri dan tujuh orang Putera ( Taufiq, Hidayat, Wahyu, Rahmat, Amal, Habibie dan Maulana )
Pendidikan : 1944 – 1953 SD s/d SLA di Darussalam Labuhanhaji Tapaktuan, Aceh Selatan 1954 – 1959 Perguruan Tinggi Islam Bustanul Muhaqqiqin Darussalam Labuhanhaji Aceh Selatan 1964 Persamaan Ijazah Perguruan Tinggi Islam Bustanul Muhaqqiqin Darussalam Labuhanhaji Aceh Selatan dengan Magister Syari’at Islam, Spesialisasi Ushul Fiqh Al-Islami (The Roots Theorical Bases of Islamic Law Section), al-Azhar University, Faculty of Islamic Statute & Law, Cairo, Egypt. 1970 Dokter (Ph.D) Syariah Islam, Bidang Ushul Fiqh Al-Islami (Spesialisasi The Roots-The Orical-of Islamic Law Section), Al-Azhar University. 1978-1979 Lemhannas (Lembaga Pertahanan Indonesia) KRA XI, Jakarta. 1979 Penataran Pemuka Agama seluruh Indonesia Angkatan ke-II, Jakarta. 1980 Penataran Calon Penatar P4 (Manggala P4 Nasional ) Istana Bogor. 1984 Penataran Kewaspadaan Nasional (Khusus Manggala P4 Nasional), Jakarta.
Kegiatan Akademik : 1963-1964 Dosen (status Guru Besar) Perguruan Tinggi Islam Bustanul Muhaqqiqin Perguruan Tinggi Islam Darussalam Labunhanhaji Aceh Selatan. 1970-1976 Dosen IAIN Falkutas Syariah Syarif Hidayatu ‘lLah, Jakarta. 1971-1974 Dosen Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (PTIQ), Jakarta 1988-1993 Professor Ilmu Hukum Islam, Institut al-Quran (IIQ) Jakarta.
Pengalaman Kerja : 1963-1964 Direktur Perguruan Tinggi Islam Bustanul Muhaqqiqin Darussalam Labuhanhaji Aceh Selatan. 1973-1975 Wakil Dekan Bidang Akedamis, Fakultas Syari’ah IAIN Syarif Hidayatu’lLah, Jakarta. 1979-1982 Pimpinan Majlis Dakwah Islamiyah (MDI) Indonesia, Jakarta 1982-1993 Ketua Umum Rabithahatul Ulamail Muslimin al-Sunniyyin (Ikatan Ulama Islam Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah) Indonesia, Jakarta. 1983-1988 Anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia (DPA- RI) 1992 Pensyarah, Universiti Islam Antarabangsa, Kuala Lumpur, Malaysia
Karya Ilmiah : Al-Ijtihad fi al-Fiqh al-Islami (Ijtihad dalam Hukum Islam), tahun 1970. Thesis Ph.D. dari Falkutas Syari’ah dan Qanun, Universitas al-Azhar. Hakikat Hikmah Tauhid dan Tasawwuf (4 jilid), 1972-83. Ulama Menurut Islam (Mahiyat al-Ulama fi al-Islam – Naskah Seminar PB N. U. 1976). Asuransi dalam Pandangan Syari’at Islam (Al-Ta’min fi al-Syari’ati al-Islamiyah-Naskah Seminar PB N. U. 1975). Taraweh dan Witir serta Ibadat-ibadat yang Bertalian dengannya menurut Sunnah Rasul Dan Sunnah Sahabat, dan Pengalaman Para Ulama Islam Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah (1985) Dari Manakah Datangnya Istilah Ahli al-Sunnah wa al-Jama’ah (1985).
Undangan seminar dan lain-lain seperti ke Malaysia (Seminar Guru-guru Asean) tahun 1977, Ke Brunei Darussalam (Seminar Da’wah Islamiah) tahun 1985 dan lain-lain.














DAFTAR Blog, WEB, Pustaka
1.      Blog,Kitab Kuneng
2.      Blog,Raja Muda Awe
3.      Blog, Nurul Ihsan
4.      Blog, Tambeh Said
5.      Blog, Bakhtiar Ibrahim
6.    Blog, Boy Nashruddin Agus
7.    Diposkan oleh Habib aL-Fata di 08.06

/>

Tidak ada komentar: